Sudah lebih dari satu tahun kita semua mengarungi pandemi di muka bumi ini. Peristiwa pandemi tidak hanya di Indonesia, tapi juga terjadi di berbagai negala lain dengan skala massif dan global. Jika kita memahami lebih mendalam, pandemi ini merupakan pintu bagi kita semua untuk merefleksikan diri secara tepat.
Bagi saya pribadi, pandemi merupakan kesempatan besar untuk menengok kembali hakikat penciptaan manusia. Apa makna Allah menciptakan kita semua, sebagai manusia, sebagai hamba? Sudahkah kita memaknai secara tepat, tentang kesejatian kita sebagai manusia, tentang tugas kita sebagai hamba? Apakah anugerah waktu, energi, kesehatan, pikiran, dan sebagainya, yang diberikan oleh Allah kepada kita sudah digunakan secara maksimal untuk menanam kebaikan?
Ini tentu pertanyaan-pertanyaan panjang yang membutuhkan renungan yang tidak sebentar. Di tengah pandemi ini, kita diajak untuk berfikir sekaligus menafsirkan terus menerus posisi kita sebagai hamba Allah, juga tugas kita sebagai manusia. Pandemi menjelaskan secara rinci, bagaimana kita bercermin untuk melihat sisi terdalam dari diri kita sebagai manusia.
Maka, pandemi harus dimaknai sebagai ruang untuk melakukan perjalanan panjang. Sebuah perjalanan yang sampai saat ini kita belum tahu titik akhirnya. Namun, kita semua punya kesempatan untuk terus menerus memaknai dan mengisi perjalanan panjang ini dengan berbuat kebaikan.
Serangkaian waktu yang kita miliki selama pandemi, setidaknya setahun terakhir, dapat kita evaluasi bersama di tengah kesunyian malam, ketika kita sedang sendiri menghadap Allah. Refleksi batiniyah ini sangat penting agar kita tidak kehilangan arah dan semangat di tengah pandemi. Sebagai manusia yang beriman, harus ada semangat hidup untuk berbuat kebaikan dan membangun kemaslahatan. Jika hidup kita berguna, jika kita terus menerus menebar manfaat, maka gairah dan energi kebaikan akan tersuntik dalam diri kita.
Di tengah peringatan Isra’ Mir’aj yang kebetulan berlangsung di tengah pandemi, kita bisa menarik garis refleksi yang sesuai, bahwa pandemi dan Isra Mi’raj keduanya merupakan perjalanan panjang. Nabi Muhammad SAW telah diperjalanankan Allah dalam peristiwa Isra Mi’raj, dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha untuk kemudian naik ke langit, mendapatkan pesan penting berupa shalat.
Oleh-oleh terbesar dari peristiwa Isra Mi’raj adalah perintah shalat. Sebagai rukun Islam, shalat menjadi pesan penting bagi kita semua, sebagai makhluk Allah, sebagai hamba-Nya. Setelah mendapat pesan shalat lima waktu, Nabi Muhammad kembali turun ke bumi. Beliau kembali menuntaskan tugas sebagai Rasul, sebagai utusan Allah sekaligus memimpin umat muslim menuju kesalehan.
Isra Mi’raj merupakan peristiwa penting untuk melangitkan manusia—sebagai hamba, sebagai makhluk—untuk kemudian membumi kembali. Pesan penting dari peristiwa Isra Mi’raj agar manusia mengetahui secara benar, memahami secara detail bagaimana proses penciptaan sekaligus tujuan diciptakan sebagai manusia. Allah menciptakan manusia sebagai hamba, sebagai khalifah fil-ardh, pemimpin di bumi.
Konsep khalifah fil-ardh ini tidak sekedar persoalan politik atau kepemimpinan semata. Akan tetapi, lebih luas dari konsepsi politik, yakni agar manusia mampu mengelola bumi dan alam semesta yang diciptakan oleh Allah untuk kebaikan. Sebagai makhluk Allah, manusia mempunyai kecerdasan, punya hati nurani, energi, instink, dan hal-hal yang berbeda dengan binatang dan makhluk lainnya.
Untuk apa kecerdasaran dianugerahkan kepada manusia? Tentu saja agar manusia mengamalkan pesan dari Allah untuk mengelola alam semesta untuk memperluas dan mendistribusikan kesejahteraan, maslahah ‘ammah. Akan sangat rugi jika kita tidak mengelola kecerdasan, energi, waktu luang dan segala kelebihan yang diberikan kepada kita. Kita mengelola keistimewaan-keistemewaan itu untuk membantu sesama, untuk menguatkan solidaritas sosial.
Mengarungi Pandemi
Lalu, bagaimana kita menarik spirit Isra’ Mi’raj pada konteks sekarang ini?
Saat ini, pandemi merupakan tantangan bersama. Kita harus bersama-sama saling menguatkan agar melampaui pandemi dengan selamat. Terkadang, tantangan itu juga datang dari dalam diri kita sendiri, misalnya menjaga kesehatan, rutin olahraga, menjaga kesehatan mental, sekaligus menahan diri agar tidak tertular virus. Memulai membenahi diri sendiri, ibda’ bi nafsi, sebagai pesan penting agar kita melawan pandemi dari lingkup terkecil: diri sendiri dan keluarga.
Selanjutnya, pandemi dan Isra’ Mi’raj juga menjadi refleksi perjalanan panjang kita sebagai manusia dan makhluk Allah. Jika Allah memperjalanan Nabi Muhammad dalam peristiwa Isra Mi’raj, maka kita bisa memaknai pandemi sebagai perjalanan panjang. Jika dalam Isra Mi’raj, Allah melangitkan Nabi Muhammad dan kemudian mengembalikan ke bumi dengan tugas khusus berupa shalat.
Maka, pandemi bisa kita maknai bahwa peristiwa ini bisa melangitkan kita untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, sekaligus membumikan kembali kita semua dengan tugas khusus: terus menerus berbuat kebaikan dan menebar kemanfaatan (*).
Leave a Reply