Home Berita Mengenal KH. Abdurrohman Mranggen, Khalifah TQN yang Haulnya Diperingati Setiap Dzulhijjah

Mengenal KH. Abdurrohman Mranggen, Khalifah TQN yang Haulnya Diperingati Setiap Dzulhijjah

KH. Abdurrahman Mranggen merupakan salah satu tokoh penyebar Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) yang sangat berpengaruh di Jawa Tengah. Berkat kegigihan KH. Abdurrahman dan dzuriyahnya, Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah berhasil membumi di masyarakat, khususnya masyarakat Jawa Tengah. 

Tanggal 11 Dzulhijjah 1444 H, merupakan peringatan haul KH Abdurrahman bin Qasidil Haq ke-83. Berikut manaqib beliau.

Kelahiran dan Pendidikan KH Abdurrahman Mranggen  

KH. Abdurrahman lahir di kampung Suburan Mranggen Demak tahun 1872 M. Ayahnya Kiai Kasidin yang dikenal juga dengan KH. Qosidil Haq merupakan seorang guru ngaji. Selain itu setiap harinya Kiai Qosidil Haq juga berkebun dan berdagang, serta menyewakan rumahnya untuk penginapan para pedagang yang datang dari luar kota.

Dalam hal pendidikannya, Kiai Abdurrohman kecil dididik dan dibimbing langsung oleh ayahnya sendiri, lalu setelah memasuki usia dewasa beliau belajar di Pesantren Tayem, Purwodadi, Grobogan. 

Kiai Abdurrorman juga pernah nyantri di sebuah pesantren yang berada di seberang sungai Brantas Kediri Jawa Timur. Setelah pulang dari Jawa Timur, Dirinya berguru pada KH. Abu Mi’raj di Kampung Sapen, Penggaron, Genuk, Kota Semarang, hingga akhirnya dijodohkan dengan putrinya yaitu Nyai Hajjah Shofiyah Abu Mi’raj.  

Kiai Abdurrohman sempat berguru pula pada  KH. Sholeh Darat, seorang ulama besar kenamaan dari Semarang. Juga berguru pada KH. Ibrohim Brumbung Mranggen. Di sinilah Kiai Abdurrohman, di mata  KH. Ibrohim mulai terlihat keistimewaannya. 

Pada suatu ketika KH. Ibrohim akan melaksanakan shalat berjamaah dengan para santrinya, termasuk Kiai Abdurrohman. Sebelum berjamaah  KH. Ibrohim berkata pada santri-santrinya, bahwa ketika nanti apabila ada sesuatu hal terjadi dan ia mampu menghadapinya dengan sabar dan tenang, maka suatu saat nanti akan mempunyai putra yang berhasil menjadi orang yang sholeh dan alim.  

Tidak lama setelah itu ketika KH. Ibrohim melaksanakan jamaah shalat maghrib bersama santri-santrinya. Ketika selesai shalat tiba-tiba ada seekor ular datang menuju ke arah Kiai Abdurrohman, ular itu terlihat merambati tubuhnya, dan hal itu berlangsung sampai shalat jamaah selesai. 

Bahkan menjelang shalat jamaah Isya KH. Ibrohim menuju ke Mushala untuk shalat Isya ternyata masih dijumpai Kiai Abdurroman masih tetap berada ditempatnya dan melihat ular tadi yang masih berada di sekitar Kiai Abdurrohman.

Setelah ular itu pergi dengan sendirinya KH. Ibrohim mengatakan kepada Kiai Abdurrohman bahwa “Kamu termasuk orang yang tahan ujian, sabar dan tabah.” Dalam redaksi yang lain dikatakan bahwa “besok kamu akan memiliki putra yang shaleh, alim, dan menjadi orang besar.”

Perkataan sang guru adalah doa bagi seorang murid, demikian pula perkataan KH. Ibrohim yang mengandung doa itu dikabulkan oleh Allah Swt., dan di kemudian hari Kiai Abdurrohman menjadi seorang ulama dan putra-putrinya menjadi orang-orang yang alim. Di antaranya adalah dua putra beliau yang ketokohan dan keulamaannya begitu masyhur di nusantara, yaitu KH. Muslih Abdurrohman dan KH. Ahmad Muthohar. Dan setelah kejadian tersebut KH. Ibrohim berkenan membaiat Kiai Abdurrohman untuk menjadi Khalifah Thariqah Qadiriyah Wa Naqsyabandiyah. 

Dalam mencari maisyah sehari-sehari, Kiai Abdurrohman berdagang kain di pasar. Meskipun demikian dirinya sangat disiplin dalam beribadah. Di antara kebiasaannya adalah beliau tidak berangkat ke tempat dagang sebelum menunaikan shalat dhuha, meskipun sudah banyak calon pembeli berdatangan, tidak menyurutkan niat mereka untuk membeli kain dari kiai Abdurrahman sehingga mereka nampak setia menunggu sampai beliau datang.

Kiai Abdurrohman juga dicintai para pelanggannya karena suka memberi kelonggaran pada mereka yang mengambil barang dagangannya dulu dan membayar belakangan atau diangsur.  

Selain itu, berkat kejujuran dan kemahirannya dalam berbahasa Arab, para pedagang keturunan Arab yang tinggal di Semarang juga menaruh kepercayaan kepada beliau dan membolehkan dirinya membawa barang dagangannya.

Sosok Kiai Abdurrohman juga dikenal sebagai pribadi yang luwes dalam setiap pergaulan. Bergaul dengan kiai tampak kekiyaiannya, bergaul dengan bangsawan tampak kebangsawanannya, bergaul dengan pedagang kelihatan sifat kesaudagarannya.

Di samping sebagai pedagang, ketokohan Kiai Abdurrohman juga sudah terkenal pada saat itu, dirinya juga sangat perhatian terhadap dunia pendidikan. Terbukti beliau merintis pendirian Pesantren Suburan (kelak berubah nama menjadi Pondok Pesantren Furuhiyyah Mranggen) yang kemudian menjadi pusat pendidikan Islam di Demak dan banyak tokoh-tokoh besar terlahir dari pesantren yang beliau dirikan itu.

Sebagai sorang alim yang berdedikasi tinggi terhadap tugas dan tanggung jawabnya, Kiai Abdurrohman senantiasa mengamalkan ilmu-ilmu yang dikuasai demi pengabdian kepada Allah dan Rasul-Nya, Agama juga kepada Nusa dan Bangsa.

Keluarga KH Abdurrahman Mranggen

Kiai Abdurrohman beristri dua, tapi tidak poligami. Istri pertama Ibu Nyai Suripah ipar KH Ibrohim Brumbung Mranggen dan dikaruniai empat orang putra namun semuanya dipanggil oleh Allah Swt, sewaktu masih kecil yakni setelah ibunya Suripah menghadap kehadirat Allah Swt.

Kemudian dirinya berkenan menikah lagi dengan Hj. Shofiyyah (nama kecil Fatimah) binti KH. Abu Mi’roj bin Kiai Syamsudin Penggaron Genuk Semarang dan dikaruniai 11 Putra-putri antara lain:

1. Hafsoh (lahir di kapal dalam perjalan menuju tanah suci, meninggal di Jakarta dalam perjalanan ke tanah air)
2. KH Usman (wafat 1967)
3. Bashiroh (meninggal sewaktu kecil)
4. KH Muslih (Wafat tahun 1981)
5. KH Murodi (Wafat tahun 1980)
6. Rohmah (meninggal sewaktu kecil)
7. KH Fathan (Wafat tahun 1945)
8. KH Ahmad Muthohar (meninggal tahun 2005)
9. Hj Rohmah Muniri (meninggal tahun 1988)
10. Faqih (meninggal sewaktu kecil)
11. Tasbihah Mukri (meninggal sewaktu kecil)

Akhir Hayat KH Abdurrahman Mranggen

Puluhan tahun KH Abdurrahman mewakafkan dirinya untuk berjuang dalam dakwah menyebarkan ajaran agama serta pengabdiannya kepada masyarakat, sehingga sangat patut jika beliau mendapatkan tempat yang terbaik dan penghargaan dari para kolega dan masyarakat umum lainnya. 

Setelah pengabdiannya kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya. KH. Abdurrohman menghadap Ilahi pada tanggal 12 Dzulhijjah 1360 H bertepatan pada tahun 1941 M dalam usia 70 tahun.

Semoga beliau menjadi teladan bagi kita semua.

Leave a Reply

Your email address will not be published.