Home Artikel Jurus Melipat Bumi ala Ulama Sufi

Jurus Melipat Bumi ala Ulama Sufi

Pernahkah sahabat mendengar seorang ulama yang sedang berada dalam suatu tempat yang amat jauh kemudian dalam waktu yang singkat sudah berada di tempat lain? Atau ulama yang sebetulnya sedang berada dalam satu majelis namun pada waktu yang sama juga berada dalam majelis lain? Kisah-kisah seperti ini sebetulnya sangat masyhur di kalangan ulama-ulama sufi yang dianggap sebagai salah satu karamah yang diberikan Allah Swt. kepada hamba-Nya yang dicintai. Mungkin hal-hal semacam ini sangat mustahil bagi orang awam. Tapi ingatlah, jauh sebelum itu, Rasulullah Saw. pernah juga mengalami peristiwa yang besar di luar nalar yaitu Isra mi’raj. Dalam peristiwa tersebut, Rasulullah Saw. diperjalankan oleh Allah Swt. dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang jaraknya ribuan kilometer. Tidak hanya itu, Rasulullah Saw. bahkan diangkat pula ke langit hingga Sidratul Muntaha yang jaraknya jutaan tahun cahaya. Ajaibnya seluruh perjalanan itu hanya dilakukan dalam waktu semalam. Lalu apa sulitnya bagi Allah Swt. untuk melakukan hal yang sama terhadap para walinya?

Diceritakan dari KH Fadlolan Musyaffa’ , bahwa KH. Maimoen Zubair dalam suatu waktu pernah mengunjungi Luxor, Mesir. Kemudian tiba-tiba beliau meminta khadamnya yang pada saat itu adalah KH Fadlolan Musyaffa’ untuk beriziarah ke Imam Sadzili. Padahal, Maqbarah Imam Sadzili terletak di perbatasan Mesir dan Sudan yang jarakanya ratusan kilometer atau sekitar enam jam jika ditempuh dengan kendaraan darat dari Luxor. Sedangkan pada saat itu pesawat yang dipesan untuk kembali ke Kairo akan take off pukul delapan malam. Tapi karena ketakdziman Kiai Fadholan, beliau tetap mengiyakan dan tidak berani menolak. Kemudian berangkatlah rombongan menuju Maqbarah Imam Sadzili dan tiba di lokasi hampir magrib. Jika dilihat dari waktu yang tersisa, rasanya sangat tidak mungkin bisa sampai di bandara pukul tujuh malam. Namun Mbah Moen dengan tegas menyatakan bahwa mereka akan sampai di bandara tepat waktu. Dan disinilah Allah Swt. menunjukkan kekuasaannya melalui karamah Mbah Moen.

Setelah menyelesaikan doanya, rombongan Mbah Moen bergegas pulang dengan mengendarai mobil. Anehnya, perjalananan pulang tidak sama waktunya dengan ketika berangkat. Cepat sekali. Seolah-olah mereka sedang mengendarai buroq. Sehingga, hanya butuh dua jam untuk sampai di bandara untuk kembali ke Kairo.

Cerita seperti Mbah Moen ini sebetulnya banyak terjadi pada wali-wali Allah. Hanya saja yang mengalami hal tersebut tidak sepopuler beliau sehingga tidak terpublikasikan dengan baik. Syeikh Abul ‘Abbas Al Mursi pernah menyebutkan karamah ini dalam pembahasan thayyul ardhi (melipat bumi). Beliau mengatakan, “Melipat itu ada dua macam yaitu yang sifatnya kecil dan besar. Adapun yang kecil itu adalah melipat yang dilakukan oleh ulama-ulama sufi dengan cara dilipatnya bumi untuk mereka dari wilayah bagian timur hingga wilayah bagian barat dalam satu waktu. Sedangkan melipat dalam arti besar adalah melipat sifat-sifat nafsu.

Syeikh Misbah bin Zein al Musthafa menerangkan bahwa yang dimaksud oleh Syeikh Abul ‘Abbas al Mursi mengenai melipat sifat-sifat nafsu diantaranya seperti berambisi menjadi guru thariqah, menjadi tokoh publik, nafsu terhadap kepemilikian dunia dan bahkan mengejar karamah-karamah yang belum layak ia miliki.  

Sehingga sebetulnya, waliyullah menganggap hal-hal seperti melipat bumi itu adalah karamah-karamah kecil yang diberikan oleh Allah Swt. Lebih dari itu, melipat nafsu dari hati dan pikiran adalah karamah yang lebih penting dan lebih besar untuk diupayakan

Wallahu a’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published.