Diriwayatkan bahwa ada seseorang yang bertempat tinggal di suatu tempat yang agak jauh dari kota Baghdad. Orang tersebut mendengar berita tentang kemasyhuran Syekh Abdul Qadir, sehingga ia bermaksud ingin berkunjung ke rumah Sang Syekh karena terdorong oleh rasa cintanya yang mendalam.
Ketika tiba di Kota Baghdad, ia tercengang kheranan melihat bangunan istal kuda kepunyaan Syekh Abdul Qadir yang sangat megah dan bagus. Papan lantai istalnya terbuat dari emas dan perak. Pelananya terbuat dari sutra dewangga yang indah warnanya. Kudanya ada empat puluh ekor dan kesemuanya bagus serta tidak ada bandingannya.
Setelah melihat hal itu, terlintas dalam hatinya perasangka yang kurang baik. Bisikan hatinya berkata,
“Konon dikatakan orang ia seorang wali, tetapi mengapa kenyataanya jauh berbeda sekali. Ia seorang pengemar dan pecinta dunia. Di mana ada seorang wali yang cenderung mencintai dunia. Sikap perilaku semacam ini tidak pantas diberikan gelar waliyullah (kekasih Allah).“
Semula ia yang ingin bertemu dengan Syekh Abdul Qadir berubah membatalkan niatnya tadi. Lalu ia bertamu kepada seseorang di kota itu.
Setelah beberapa hari dari bepergiannya di Kota Baghdad, ia jatuh sakit dan penyakitnya sangat parah. Tidak ada seorang dokter pun di kota itu yang mampu mengobati penyakitnya. Kebetulan ada seorang ulama ahli hikmah, ia memberi petunjuk dan berkata,
“Menurut diagnosa, penyakit ini sangat langka dan sulit untuk bisa sembuh, kecuali dengan 40 (empat puluh) hati kuda, dengan persyaratan kudanya harus memiliki sifat dan bentuk khas tertentu.“
Tentu saja saran ini sangat menyulitkan orang tersebut. Dari mana ia dapat menemukan kuda yang dimaksud.
Kemudian di antara mereka ada yang memperhatikan dan menyarankan segera menghubungi Syekh Abdul Qadir, karena ialah yang memiliki puluhan ekor kuda yang memiliki sifat dan bentuk khas yang diperlukan itu.
Selanjutnya, ia menyuruh seseorang agar meminta pertolongan dan bantuan kepada Syekh Abdul Qadir. Di waktu mereka menghadap Syekh Abdul Qadir, Sang Syekh dengan suka rela mengabulkan permintaan mereka, setiap hari di sembelih seekor kuda untuk diambil hatinya, sehingga kuda yang empat puluh itu habis semua.
Dengan pengobatan empat puluh hati kuda, sembuhlah orang tersebut dari penyakitnya dan sehat seperti sedia kala. Dengan rasa syukur yang tiada hentinya diringi rasa malu, ia datang menghadap Syekh Abdul Qadir untuk mohon ampunannya.
Syekh Abdul Qodir berkata,
“Untuk diketahui olehmu, bahwa sejumlah ekor kuda yang kubeli itu sebenarnya cadangan dan bagian untukmu, karena aku tahu bahwa kamu akan mendapat musibah menderita penyakit parah yang tidak ada obatnya kecuali harus dengan empat puluh hati kuda. Aku tahu maksudmu, semula kamu datang berkunjung kepadaku semata-mata didorong rasa cinta kepadaku, namun waktu itu kamu berprasangka buruk, dan kamu tidak tahu hal sebenarnya sehingga kamu bertemu kepada orang lain.“
Setelah mendengar penjelasan itu, ia merasa banyak bersalah dan segera bertaubat, lalu Syekh Abdul Qadir meluruskan dan memantapkan keyakinannya.
Leave a Reply