Depok, JATMAN Online – KH. Ahmad Sjaichu Sebagai tokoh PBNU di zamannya, mengenyam pendidikan di Madrasah Taswirul Afkar dan Madrasah Nahdlatul Wathan dua Lembaga pendidikan ini didirikan oleh KH. Abdul Wahab Chasbullah menjadi bapak tirinya. Berjalannya tahun sehingga Madrasah ini kemudian dikenal sebagai cikal bakal Nahdlatul Ulama.
Prof Dr KH Oman Faturahman, M. Hum guru besar UIN Jakarta Ahli Filologi Manuskrif Nusantara saat menyampaikan kuliah shubuh dihadapan para santri menceritakan indahnya keberkahan saat mondok di Pesantren Haur Kuning, setahun khusus mempelajari Nahwu dan Shorof, di pondok tidak hanya belajar saja, tetapi ada hal yang menjadikan keberkahan hidup kita saat ini, adalah hormat dan khidmatnya kepada Kiai, Ustadz, dan Guru.

“Tradisi santri setelah shubuh ya tidak tidur, ini merupakan daur yang diamalkan oleh KH Ahmad Sjaichu sehingga menjadi orang besar dan bermanfaat untuk negri ini, dengan peninggalan pesantren Al-Hamidiyah ini sehingga dapat dirasakan oleh banyak orang keberkahannya, termasuk saya,” Ucap pengampu channel youtube ngariksa.
Pada saat yang sama beliau juga menjelaskan bahwa makna barokah adalah
أَمَّا البَرَكَةُ فَهِيَ النَّماءُ والزِّيادَةُ والرَّفْعُ
Adapun barokah adalah sesuatu yang tumbuh dan bertambah serta meningkat.
Para santri haruslah bersabar saat belajar di pesantren yang tidak cukup beberapa tahun saja, syarat طول الزمان harus dijalani walau memakan waktu 6-9 tahun. Juga bagi santri harus menghormati ilmu dan صاحب العلم sehingga dengan akhlak kita kepada mereka yang mengajari ilmu, bukan hanya mendapat kan ilmu saja terlebih keberkahan dari ilmu kealiman guru kita.
“Santri bisa lebih tinggi ilmunya karena rasa ta’zim (sangat menghormati) kepada Kiainya, tidak sekedar ilmu yang didapati melainkan doa yang berkah dari Kiainya,” Pungkas Kiai yang mengidolakan tokoh PBNU Almagfurlah KH Ahmad Sjaichu. (red. Abdul Mun’im Hassan)
Leave a Reply