Home Artikel [JUMAT NYAMAN]: Bersikap Lemah Lembutlah

[JUMAT NYAMAN]: Bersikap Lemah Lembutlah

Syekh Muhammad bin Shiddiq al-Ghumari Ra, yang lahir di Maroko pada tahun 1295 H dan merupakan pendiri Tarekat Shiddiqiyyah Darqawiyah Syadziliyyah berwasiat: عَظِيمَ اْلحِلمِ  Bersikap Lemah Lembutlah.

Dalam kehidupan sehari-hari, tentu kita menemukan bermacam jenis orang yang memiliki watak berbeda-beda dan tabiat yang beraneka ragam. Ada di antara mereka yang bertabiat kasar, ada yang bertabiat tidak mau tahu (apatis), dan ada juga yang bertabiat lemah lembut.

Dalam beragama kita dituntut untuk menjadi yang terbaik yaitu dengan cara bersikap lemah lembut dalam segala hal. Lemah lembut bukan berarti “lembek” berperilaku, akan tetapi lemah lembut yang menyejukkan saat menghadapi persoalan apapun.

Dengan sikap lemah lembut, kata Syekh Muhammad bin Shiddiq, Allah Swt dan Kanjeng Nabi Muhammad akan mencintai dan menyayangi sebagaimana dalam hadis, nabi pernah berkata kepada Asyaj Abdil Qais:

إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَينِ يُحِبُّهُمَا اللهُ وَرَسولهُ: الحِلمُ والاَناةُ

“Sesungguhnya pada dirimu terdapat dua sifat yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, yaitu lemah lembut dan sikap kehati-hatian”. (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas)

Dan bagi orang-orang yang dibuat marah kemudian bersikap lemah lembut maka akan mendapatkan cinta Allah. Seperti yang dikatakan juga oleh Nabi Muhammad Saw;

وَجَبَتْ محَبَّةُاللهِ عزَّوجلَّ على من أُغضِبَ فحَلِمَ

“Wajiblah mendapatkan cinta Allah Swt bagi orang yang dibuat marah lalu bersikap lemah lembut”. (HR. Al-Ashfahani dalam at-Targhib dari Sayyidah Aisyah Ra)  

Sikap lemah lembut bukan hanya disukai dan dicintai Allah dan Rasul-Nya, para wali Allah yang menyebarkan agama Islam di Bumi Nusantara yaitu dengan sikap lemah lembut. Jika tidak dengan sikap tersebut, Islam sulit diterima oleh masyarakat Indonesia.

Dengan sikap lemah lembut ini akan terpuji di ‘mata’ Allah Swt dan juga terpuji dihadapan manusia. Meskipun sikap lemah lembut bukan diniatkan agar dipuji orang lain, sudah barang tentu fitrah manusia menyukai dan mencintai kelembutan sebagai wujud kasih sayang. Allah Swt berfirman:

فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ

“Maka dengan rahmat Allah-lah engkau menjadi lembut terhadap mereka dan jika engkau keras hati niscaya mereka akan lari dari sisimu.” (Ali ‘Imran: 159)

Syekh Wahbah Zuhali dalam bukunya Tafsir Munir menjelaskan, ayat tersebut berbicara dalam konteks interaksi Nabi dengan para sahabat yakni dengan lemah lembut, saling memaafkan, bermusyawarah dan menasihati agar selalu berbuat baik. “Sebab kasih sayang dan petunjuk-Nya, Allah menjadikan Nabi Muhammad saw sebagai seorang hamba yang karismatik dalam berinteraksi dengan sesama, menerima segala bentuk pendapat, bertutur secara santun dan ramah.”

Andai saja sikap lemah lembut ini menyertai pemimpin agama seluruh dunia  maka akan terwujudnya hidup rukun dan damai. Bagi ulama yang berdakwah pun akan mudah saja membuat orang-orang menerima ajaran Allah Swt dan akan menjadikan mereka mencitai sesama bahkan bisa jadi mencintai agama Allah Swt.

Namun jika sebaliknya, yakni para pemimpin atau ulama yang berdakwah tidak memiliki sikap lemah lembut (Baca: sikap kasar/marah) maka akan menyebabkan orang-orang lari dari ajaran agama yang dibawanya. Padahal hakikat agama yang dibawanya merupakan rahmat bagi semua, yakni merangkul seluruh manusia. Wallahua’lam

Warto’i

Leave a Reply

Your email address will not be published.