Home Artikel Perjalanan Intelektual Habib Luthfi Bin Yahya

Perjalanan Intelektual Habib Luthfi Bin Yahya

Jakarta, Jatman.or.id – Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya merupakan Ulama dan Sufi fenomenal dari Pekalongan, Jawa Tengah karena perilaku dan sikapnya dalam menjaga keutuhan NKRI. Hal itu tidak terlepas dari background knowledge beliau.

Pendidikan pertama Habib Luthfi diampu langsung dari ayahnya. Kemudian berlanjut di Madrasah Salafiah dimana beliau digembleng oleh para guru yang antara lain sebagai berikut:

a. Al-Alim al-‘Alamah Sayid Ahmad bin Ali bin al-‘Alamah alQuthb al-Sayid Ahmad bin Abdullah bin Thalib al-Athas.

b. Sayid al-Habib al-‘Alim Husain bin Sayid Hasyim bin Sayid Umar bin Sayid Thaha bin Yahya (paman beliau sendiri).

c. Sayid al- ‘Alim Abu Bakar bin Abdullah bin Alawi bin Abdullah bin Muhammad al-Aththas Ba ‘Alawi.

d. Sayid al-‘Alim Muhammad bin Husain bin Ahmad bin Abdullah bin Thalib al-Athas Ba ‘Alawi.

Beliau belajar di Madrasah tersebut selama tiga tahun. Kemudian beliau melanjutkan perjalanan intelektualnya pada tahun 1959 M ke pondok pesantren Benda Kerep Cirebon, dan melanjutkan ke pondok pesantren Indramayu Purwokerto dan Tegal. Dan setelah itu beliau melaksanakan ibadah haji serta berziarah ke makam datuknya Baginda Rasulullah SAW di kota Madinah al-Munawwarah. Di sana beliau berkesempatan untuk menemui ulama-ulama besar, untuk menimba ilmu. Hal yang sama beliau lakukan juga di kota suci Makkah. Di kedua kota tersebut Beliau menerima beberapa ilmu syari’ah, thariqah, dan tasawuf.

Perlu di ketahui, untuk memperdalam dan memperluas ilmu, Habib Luthfi juga mempelajari tafsir al-Qur’an dan ‘ulumul hadis, mulai dari sanad, riwayat, dan dirayat. Sementara ilmu tasawuf beliau pelajari dari tokoh-tokoh sufi yang ada saat itu, dan beliau berhasil bertemu langsung dengan Mursyid-mursyid thariqah yang ada di hijaz ketika itu. Selain itu beliau juga belajar tentang ilmu kedokteran dalam Islam.

Dari guru-guru tersebut, beliau mendapatkan ijazah khas dan juga ijazah ‘am dalam dakwah, nasyrussyari’ah, ilmu thariqah, dan ilmu tasawuf. Ketika melihat kelebihan dan kemampuan yang ada pada dirinya, para ulama’ tersebut memberikannya wewenang, Mandat dan Ijazah untuk membai’at umat.

Sumber: http://eprints.unisnu.ac.id/1507/5/5.%20Skripsi%20BAB%20III.pdf

Leave a Reply

Your email address will not be published.