Pertanyaan: Sering kita membaca sejarah para wali Allah Swt dalam kisah hidupnya sebelum menjadi wali. Ada diantaranya yang melakukan dosa besar, baik kepada Allah Swt maupun sesama manusia. Singkat kata, akhirnya mereka bertaubat. Taubat inilah yang menjadi akar permasalahannya. Sebab, walaupun sudah bertaubat secara total kepada Allah Swt, dimungkinkan masih ada sisa-sisa dosa kepada sesama manusia, yang, belum semuanya terselesaikan atau bahkan termaafkan, mengingat besarnya dosa yang telah dilakukan.
Apakah Allah Swt dengan sifat Rahman dan Rahim-Nya akan mengangkat seseorang menjadi kekasih-Nya (wali), walaupun masih memiliki dosa dan noda yang belum seratus persen bersih? Selanjutnya, apakah hal itu merupakan makna dan tafsir dari hadis Likulli syain istiqalah wa istiqalatul qalbi bidzikrillah, yang artinya: ‘Setiap noda pasti ada alat untuk menghapusnya. Adapun alat untuk menghapus noda hati adalah seringnya melakukan dzikir kepada Allah swt.
Jawaban Habib Luthfi: Masalah dosa, itu mutlak hak Allah Swt, bukan hak kita. Kalau Allah Swt sudah memilihnya dan mengangkatnya, otomatis dosa itu akan hancur sendiri. Dan Dia, yang serba Maha dalam segala sifatnya, jelas lebih tahu kedudukan hamba yang akan diangkat-Nya. Jadi tidak usah dipersoalkan. Kalau Allah Swt mau mengangkat, apa mengampuni. Allah Swt itu sangat mudah untuk mengampuni, bukan seperti kita.
Mengenai pendapat Anda seputar dzikir para wali, itu betul. Semua auliya’ dan para wali, walaupun sudah tidak ada dosanya, tetap melaksanakan dzikir kepada Allah swt. Yang namanya dzikir itu memiliki fungsi:
Pertama, menghapuskan dosa-dosa.
Kedua, menghapus sifat-sifat yang tidak baik dan tidak terpuji, yang terdapat di dalam hati.
Ketiga, memoles hati yang sudah bersih, biar lebih bersih. Demikian, semoga Anda memahami.
Leave a Reply