Sidoarjo, JATMAN Online – Pengurus Pusat (PP) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) menggelar Konferensi Nasional Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) di aula Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo Kampus B, Jawa Timur, Senin, (6/1/2023).
Acara tersebut juga disiarkan online via Zoom Meeting dan YouTube dengan tema “Membangun Peradaban untuk Kemandirian NU dan Kedaulatan Bangsa”. Turut dihadiri sekitar 500 Doktor ISNU, dan 200 Guru Besar ISNU, serta kader ISNU se-Indonesia.
Ketua Umum PP ISNU, KH. Dr. Ali Masykur Musa dalam sambutannya mengungkapkan, acara ini digelar untuk memperkokoh peran strategis ISNU baik dalam kehidupan nasional maupun internasional melalui peneguhan pandangan keagamaan yang moderat berbasis pada paham Ahlussunah Wal Jamaah An-Nahdliyyah; dan untuk meneguhkan kehidupan NU yang lebih mandiri dan berdaulat untuk terciptanya Warga Nahdliyyin yang lebih sejahtera dalam kehidupan Bangsa dan Negara Indonesia.
“Sebagaimana diketahui bahwa ISNU sebagai organisasi yang didirikan berbasis intelektualitas, profesionalitas, dan keahlian tertentu siap mendedikasikan kadernya untuk kehidupan NU, Bangsa dan Negara Indonesia, dalam memasuki NU diabad ke-2,” kata kiai Ali.
Menurutnya, berdasarkan pantauan dan dokumen bahwa ISNU memiliki 634 Guru Besar dan mendekati 3.000 Doktor, serta S2 yang tak terbilang jumlahnya.
“Kader tersebut merupakan potensi besar yang didedikasikan ISNU untuk membangun NU kedepan demi kepentingan Bangsa dan Negara Indonesia. Kader ISNU tersebut menempati sebagai Rektor diberbagai Universitas Negeri Umum maupun Keagamaan yang jumlahnya sebanyak 44 Perguruan Tinggi, dan Birokrat dihampir semua Kemeterian,” paparnya.
Generasi muda NU, lanjutnya, harus diorientasikan dengan meningkatkan skill dan teknokrasi yang berbasis IT dan memiliki sertifikasi yang berstandar nasional sehingga terlahir para profesional dilingkungan NU diberbagai bidang.
“Kader NU harus siap untuk mengisi seluruh jabatan-jabatan tehnokrasi dan profesionalitas didunia kerja baik dalam bidang pemerintahan, korporasi, dan bisnis,” ucapnya.
Selain itu, Mursyid Thariqah Naqsabandiyah Khalidiyah ini menyampaikan ISNU sebagai kader NU harus memiliki sikap dan etika modern sebagai wujud kemampuan kualitas Teknokrat NU yang siap diterima dalam kepemimpinan nasional, daerah, dan didunia profesional.
“Kader modern ISNU ini diantaranya ditandai dengan disiplin, profesional, komprehensif, konsisten, dan senantiasa beradaptasi dengan perubahan. Sikap dan etika kader NU ini sesuai dengan kaidah almukhafadhotul ala qodimissholih, wal ahdzu bil jadidil ashlah,” ucapnya.
Pengasuh Pondok Pesantren Pasulukan Al-Masykuriyyah ini mengatakan, modernisasi kehidupan dewasa ini yang ditandai dengan revolusi dibidang IT disebut juga Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0, dimana semua kehidupan harus berbasis digital, seperti e-commerce, e-marketing, dan e-birocration baik dibidang ekonomi melalui market place dan teknologi birokrasi melalui e-office.
Dengan demikian, NU harus melakukan peningkatan capacity building baik secara kelembagaan maupun perorangan baik dari sisi teknokrasi, skill dan profesionalitas agar tidak tertinggal oleh peradaban jaman. Sehingga, penilaian atas lemahnya teknokrasi yang dimiliki oleh NU pada abad ke-1, seperti yang dialami pada saat KH. Abdurrahman Wahid menjadi Presiden RI tidak akan terulang lagi.
“Saatnya NU diabad ke-2 ini bangkit sebagai organisasi modern yang memiliki teknokrat handal dan memiliki jiwa enterpreunership sehingga NU menjadi organisasi yang mandiri dan tidak mudah untuk diintervensi oleh siapapun, apalagi diperjualbelikan,” ungkapnya.
Kiai Ali juga berpesan Islam harus kedepankan kemanusiaan.
Leave a Reply