Sudah menjadi maklum bahwa Maulana Syekh Yusri Rusydi tidak jarang menyampaikan pemahaman beliau di tengah penjelasan kitab, jika penjelasan yang beliau sampaikan itu belum pernah ada yang menyampaikannya, beliau akan menamakannya dengan istilah “al-Fuhum al-Yusriyah ‘ala…“
Tak ayal. Contohnya, beliau sendiri berseberangan pendapat dengan sang Guru, syeikh Abdullah bin Shiddiq al-Ghumari dalam permasalahan lafadz أب dalam Quran tepatnya kisah Nabi Ibrahim yang mendoakan sang Ayah.
Menurut syekh Yusri hafizahullah, أب disitu berarti paman, bukan ayah kandung, karena lafadz أب dalam bahasa Arab tidak melulu berarti ayah kandung, tapi juga paman, kakek atau buyut. Ayah kandung Nabi Ibrahim bernama Tarih, wafat ketika sang Nabi masih kecil, kemudian sang pamanlah -Azar- yang mengasuhnya.
Juga pada hadis Nabi yang mengatakan, “Inna abi wa abaaka finnar” (Sungguh Abi dan abimu di Neraka), Abi di sini berarti paman Nabi (Abu Lahab), bukan Abdullah bin Abdul Muthallib, seperti yang dipahami kaum Wahabi.
Contoh lain, makna Sabar menurut “al-Fahmu al-Yusri” ada 4, Sabar dalam ketaatan menjalankan ibadah, Sabar untuk menjauhi maksiat, Sabar dan ridha atas qadar dan ketetapan Allah pada setiap makhluk, dan Istiqomah dengan manhaj ini selama hidup.
Ridha menurut “Al-Fahmu Al-Yusri” ialah merasa bahagia dalam setiap keadaan. Apapun itu, bahkan ketika tidak punya apa-apa, jika manusia merasa senang, sabar dan Qona’ah, disitu ia mencapai derajat ridha, untuk melaju derajat di atasnya, yaitu Mahabbah.
Fitnah, menurut “Al-Fahmu al-Yusri” ialah segala sesuatu yang dapat menjauhkan kita dari Allah. Makna ini lebih umum dari makna biasanya.
Makna-makna semacam ini beliau dapatkan dari pemahaman yang luas terhadap al-Quran, Bahasa Arab, dan hadis-hadis Nabi. Tak perlu bertanya bagaimana dahsyatnya beliau kalau menjelaskan hadis, lengkap dengan hikmah dan kisah yang melatarbelakangi.
Laporan: Mohammad Hendri Alfaruq
Leave a Reply