Home Hikmah Apakah Menumbuhkan Keyakinan Kepada Allah Perlu Pembuktian?

Apakah Menumbuhkan Keyakinan Kepada Allah Perlu Pembuktian?

Meyakini bahwa kuasa Allah benar adanya pernah dibuktikan oleh Nabi Ibrahim as. Sejak masa mudanya, Nabi Ibrahim memang dikenal amat kritis dan logis terhadap gejala-gejala alam. Bahkan untuk menentukan siapa Tuhan yang akan ia sembah saja membutuhkan pengalaman spiritual yang panjang.

Kehidupan Nabi Ibrahim yang sejak kecil sudah menyatu dengan alam bebas, bisa jadi mempererat frekuensinya dengan benda-benda di sekitarnya. Dari hal itu, Nabi Ibrahim seolah dipaksa untuk selalu menggunakan akalnya secara maksimal, sehingga terbentuklah nalar yang kritis sampai ia dewasa.

Dalam Qs. Al-An’am ayat 76-78, dijelaskan bahwa sebelum mengakui Allah sebagai Tuhannya, Nabi Ibrahim lebih dulu menganalisa siapa sebenarnya pencipta alam semesta ini dengan mengamati satu-persatu benda-benda langit seperti bintang, bulan hingga matahari sebagai bintang terbesar pada sistem tata surya kita. Pikirnya, barangkali satu di antaranya layak untuk diagungkan. Sayangnya, ternyata seluruh benda-benda itu memiliki periodesasi yang berbeda dan harus tereliminasi dari keyakinan Nabi Ibrahim untuk dipilih sebagai Tuhan.

Namun, fitrahnya sebagai seorang utusan Allah menyadarkan Nabi Ibrahum bahwa yang paling layak disembah adalah yang menguasai seluruh alam, yang tidak terikat oleh waktu. Dari sinilah ia menemukan siapa Tuhan yang pantas disembah.

Tidak sampai di situ. Setelah mengakui keberadaan Allah, Nabi Ibrahim masih ingin mengetahui seberapa besar kuasa-Nya dalam mengatur apa yang ada di dunia ini. Maka dalam Surat Al-Baqarah ayat 260, Nabi Ibrahim mempertanyakan sejauh mana Allah menghidupkan sesuatu yang sudah mati,

“Tuhanku, perlihatkan kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan yang sudah mati?”

Pada ayat-ayat berikutnya kemudian Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih seekor burung dan memotongnya menjadi empat bagian. Kemudian dari masing-masing bagian itu diletakkan di tempat yang berbeda-beda. Atas kuasa Allah, burung tersebut kembali hidup. Karena bukti itulah Nabi Ibrahim merasa semakin tenang hatinya dan semakin yakin atas kuasa Allah.    

Pembuktian terhadap kekuasaan Allah ini juga pernah diujicobakan oleh seorang ulama yang ingin mengetahui bagaimana cara kerja Allah dalam memberi rizki kepada hamba-Nya. Pembuktian ini ia lakukan semata-mata agar bertambah keyakinannya kepada Allah.

Dikisahkan dalam Kitab Durratun Nasihin, ulama tersebut pergi ke sebuah hamparan tanah lapang, di mana menurutnya tidak mungkin ada satu orang pun yang mau melewati tempat itu. Kemudian ia menuju sebuah gunung yang di sela-selanya terdapat goa. Ia duduk dan berdiam diri di sana tanpa melakukan aktifitas apapun, selain menunggu bagaimana cara kerja Allah memberinya rizki.

Tak lama setelah itu, turunlah hujan yang cukup lebat. Tiba-tiba, muncullah rombongan kafilah yang tersesat di jalan itu dan mencari tempat berteduh untuk berlindung dari hujan. Kemudian mereka menemukan goa yang di dalamnya sudah ada lelaki yang hanya berdiam diri.

Melihat ada seorang lelaki di hadapannya, salah satu dari mereka menyapa, “Wahai hamba Allah.”

Namun lelaki itu tidak menjawabnya sepatah katapun.

Salah seorang dari mereka berkata, “Mungkin udara yang dingin ini menyebabkannya tidak mampu berbicara.”

Kemudian rombongan itu menyalakan api di dekatnya untuk menghangatkan badannya. Namun lelaki itu tak kunjung bersuara.

Salah seorang dari mereka berkata lagi, “Mungkin ia lapar.”

Kemudian mereka menyiapkan hidangan dan mengajak lelaki itu untuk makan. Namun ajakan itu tidak ditanggapinya. Lelaki itu masih diam mematung.

Salah seorang dari mereka berkata lagi, “Mungkin ia sudah terlalu lama tidak menemukan sesuatu seperti ini.”

Kemudian mereka membuat susu panas dan manisan dari gula. Keduanya lalu disuguhkan untuk lelaki itu, tapi ia bahkan tidak menoleh sedikitpun.

Salah seorang dari mereka berkata lagi, “Mungkin giginya sedang sakit.”

Tanpa berpikir panjang, dua orang dari rombongan itu kemudian berdiri dan mengambil sebuah benda untuk membuka mulutnya dan memasukkan makanan itu ke dalamnya.

Tiba-tiba lelaki itu tertawa dan membuat orang-orang di sekitarnya kaget. Mereka bertanya, “Apakah kau gila?”

Lalu lelaki itu menjawab, “Tidak. Aku ingin membuat uji coba, bagaimana Tuhanku memberiku rizki. Dan Dia telah membuktikan bahwa Dia selalu memberi rizki kepada hamba-Nya, di manapun, kapanpun, dan bagaimanapun.”

Selain beberapa kisah di atas, sebetulnya banyak lagi nabi-nabi dan ulama-ulama yang ingin membuktikan kekuasaan Allah secara langsung. Ini Fair, karena mereka tidak bermaksud untuk melemahkan Allah, tapi hanya ingin memantapkan hatinya kepada Allah. Hal ini membuktikan bahwa, baik sesuatu yang logis maupun tidak logis itu mampu dikendalikan oleh Allah. Sehingga, amat mudah bagi-Nya untuk melakukan sesuatu, bahkan yang di luar nalar sekalipun.

Leave a Reply

Your email address will not be published.