Home Opini

Kategori: Opini

Pos

Bolehkah Meminta “Nazhrah wa Madad” dalam Tarekat?

Sebagaimana diberitakan dalam majalah at-Tashawwuf al-Islami terbitan Majelis Sufi Tertinggi Republik Arab Mesir edisi November 2005, Pertemuan Sufi III (al-Multaqa ash-Shufi ats-Tsalits) telah berlangsung sukses nan berkah di bulan suci Ramadhan tahun 1426 H. bertempat di kediaman Syekh Muhammad Abdul Khaliq asy-Syabrawi, Mursyid Thariqah Syabrawiyah. Pertemuan yang mengusung tema “Pancaran Cahaya Nazhrah Kunci Limpahan Madad” dan dipimpin langsung oleh Ketua Majelis Sufi Tertinggi Republik Arab Mesir, Syekh Hasan Muhammad Said asy-Syinnawi, itu menghasilkan sejumlah kesepakatan, antara lain:

Pos

Membayangkan Guru Saat Berzikir, Syirikkah?

Membayangkan wajah sang guru mursyid ketika tengah melakukan zikir merupakan salah satu rutinitas umumnya pengamal tarekat sufi dengan beragam tata caranya. Apakah hal itu diperbolehkan menurut syariat Islam? Ataukah syirik akbar yang justru mengeluarkan seseorang dari agama Islam? Ya, tidak sedikit orang yang menghukuminya sebagai sebuah kesyirikan!.

Pos

Thariqah Sebagai Hipnoterapi Praktis dan Meditasi Tingkat Tinggi

Sebuah teori dasar dalam disiplin hipnoterapi menyebutkan bahwa alam bawah sadar manusia amat sangat mempengaruhi karakter, perilaku, tindakan hingga nasib serta peta kehidupannya. Sementara, proses pemrograman alam bawah sadar dimaksud komplit terlaksana di usia 0-7 tahun melalui asuhan orangtua, pergaulan sehari-hari, pendidikan dasar maupun lingkungan sekitar.

Pos

Menilik Jalan Sufi dari Kejauhan

Dikemukakan dalam sebuah media cetak Mesir, yakni harian Aqidati (edisi 25 Februari 2014), bahwa kaum sufi terdiri dari tujuh tingkatan, yaitu: Thalibun, Muridun, Salikun, Sa’irun, Tha’irun, Washilun dan Quthb. Bila diringkas menjadi dua tingkatan saja, maka Washilun Kamilun (sudah mencapai kesempurnaan) dan Salikun Thariq al-Kamal (masih menempuh perjalanan menuju kesempurnaan). Dari golongan Washilun sendiri ada yang kemudian terjun ke khalayak umat untuk menuntun perjalanan menuju Allah, yaitu para Masyaikh. Ada pula yang tidak mengurusi hal itu dikarenakan asik tenggelam dalam lautan fana’. Sementara dari golongan Salikun ada yang semata-mata mengharap ridho Allah Swt.

Pos

Empat Wali Qutub dan Tujuh Tarekat Induk

Bagi umat Islam Ahlussunnah wal Jamaah, mengamalkan tasawuf dengan menempuh suluk dalam tarekat adalah sebuah kelaziman. Banyaknya tarekat sufi yang tersebar di seluruh dunia pun menjadi indikasi positif bahwa terbentang banyak jalan mulia menuju Allah Swt. Sebagaimana banyaknya pintu pertanda luasnya tempat, dan banyaknya keran pertanda besarnya sumber air, maka banyaknya tarekat sufi pertanda luas dan besarnya rahmat Tuhan YME

Pos

Thariqah, Mursyid, Murid dan Wirid

Sebagaimana diberitakan dalam majalah at-Tashawwuf al-Islami terbitan Majelis Sufi Tertinggi Republik Arab Mesir edisi Januari 2006, Pertemuan Sufi V (al-Multaqa ash-Shufi al-Khamis) telah berlangsung sukses nan berkah di dar Thariqah Burhamiyah Kairo binaan Syekh Muhammad Ali Asyur dan dihadiri ulama-ulama tasawuf serta mursyid-mursyid thariqah se-Mesir.

Pos

Cerdas Memaknai Thariqah dan Peran Mursyid

Sejak tahun 1976, Majelis Sufi Tertinggi Republik Arab Mesir telah hadir sebagai lembaga resmi pemerintah yang mana ketuanya setara Menteri dan masa jabatannya sama dengan Grand Syekh al-Azhar, yakni seumur hidup. Selain mengayomi 60-an thariqah mu’tabarah yang berkembang di negeri para nabi serta diikuti sekitar 6 jutaan muslim, Majelis Sufi Tertinggi Mesir juga rutin menerbitkan majalah bulanan dengan nama at-Tashawwuf al-Islami.

Pos

Sebelum Bertarekat, Haruskah Menguatkan Akidah dan Syariat?

Di tengah-tengah masyarakat muslim yang berafiliasi ke Ahlussunnah wal Jamaah, seringkali terdengar sebuah statmen yang sebetulnya perlu didiskusikan. Yaitu bahwasanya ilmu tarekat tidak boleh dipelajari oleh mereka yang berusia remaja dan masih duduk di bangku sekolah. Termasuk mereka yang masih muda dan belum lanjut usia, tidak diperkenankan mempelajari tarekat apalagi mendalaminya. Alasannya cukup beragam.

Pos

Ilmu Laduni Warisan Para Nabi

“Ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. at-Tirmizi) Statmen ini tidak perlu dipertanyakan lagi kebenarannya, karena disabdakan langsung oleh sang penghulu para nabi, Rasulullah Saw. Akan tetapi, apakah kemudian setiap public figure yang telah dikenal sebagai ulama di tengah-tengah masyarakat otomatis menjadi pewaris nabi? Inilah yang penting untuk dikaji dan diluruskan.