Bogor, JATMAN Online – Ketua (Mahasiswa Ahlith Thoriqoh al Mu’tabarah an Nahdliyyah) MATAN DKI Jakarta Dr. KH. Ali M. Abdillah, MA. menjelaskan mengenai hakikat dari tasawuf dan kiat-kiat menjadi seorang sufi.
“Sufi merupakan seorang yang mengamalkan tasawuf dalam praktik Thoriqoh. Dalam prosesnya menjadi sufi, pengamalan ilmu tasawuf harus dibarengi dengan dzikir. Dzikir tarekat dan dzikir tahlil berbeda. Dzikir tarekat memiliki teknik sendiri dengan tujuan menundukkan hawa nafsu,” jelasnya.
Hal ini disampaikan Kiai Ali M. Abdiilah saat menyampaikan materi Suluk MATAN (Sultan 2.2) di Al Rabbani Islamic College, Cikeas, Bogor, Sabtu (24/12).
Sekretaris Komisi Penelitian, Pengkajian dan Pengembangan MUI Pusat ini menyampaikan mengenai sejarah tarekat.
“Perkembangan tarekat di Indonesia diawali dari sejarah penyebaran agama Islam yang dibawa oleh para pedagang dan juga para sufi. Kemudian sejarah perkembangan Islam berlanjut pada masa sebelum wali songo, masa wali songo, masa kolonial, masa setelah kolonial hingga sampai saat ini,” paparnya.

Sementara itu, Wakil PW MATAN DKI Jakarta Dr. Idris Wasahua, M.H. menyampaikan dalam materinya mengenai praktik takziyatul nufus untuk melawan perilaku koruptif, beliau menegaskan mengenai latar belakang dan tujan didirikannya MATAN.
“Latar belakang pendirian MATAN karena kekosongan batin pada mahasiswa. Kemudian MATAN didirikan dengan tujuan untuk mempertahankan Pancasila dan UUD 1945 sebagai ideologi NKRI,” jelasnya.
Menurutnya, para sufi punya kontribusi yang besar dalam pergerakan sejak zaman penjajahan. Meskipun saat ini kita sudah tidak terjajah secara fisik, namun secara subtansi kita masih terjajah. Maka dari itu, estafet perjuangan melawan penjajahan dari para sufi terdahulu diwariskan ke kita.
“Salah satu bentuk nyata dari estafet tonggak perjuangan MATAN yaitu dengan memahami dan melakukan upaya pemberantasan korupsi,” ungkapnya.
Diketahui Sultan 2.2 merupakan salah satu kaderisasi formal yang ada di MATAN. Kegiatan tersebut diadakan dari tanggal 23-25 Desember 2022 dengan tema Merajut Cinta Melalui Penanaman Nilai-Nilai Spiritualitas, Intelektualitas, dan Wawasan Kebangsaan di Era Digital.
Pewarta: Mutmainnah
Editor: Arip Suprasetio
Leave a Reply