Home Opini Kalau Bukan Karena Cinta, Lalu Apa Lagi?

Kalau Bukan Karena Cinta, Lalu Apa Lagi?

Sekembalinya saya dari rangkaian Maulid Akbar di Pekalongan beberapa hari lalu, saya masih tidak habis pikir dengan berjubelnya ribuan orang yang memadati Kanzus Sholawat dan sekitarnya.

Jika jamaah sudah mempersiapkan diri ingin mengambil posisi di depan Kanzus Sholawat pas, tentu mereka sudah prepare sejak Subuh, bahkan sejak malam harinya. Itulah senyaman-nyamannya lokasi Maulid di Kanzus Sholawat dan mereka tidak akan menyadari fenomena apa yang terjadi di belakang tempat duduk mereka sampai mereka mengetahuinya dari media sosial.

Sangat apes bagi saya yang karena padatnya kegiatan di malam hari mengakibatkan saya bangun agak telat untuk menuju lokasi Maulid Akbar. Betapa kagetnya, setiap melewati jalan, banyak jamaah yang menggelar alas-alas duduk di pinggiran untuk mengikuti kegiatan Maulid. Berbagai jenis kendaraan terparkir di sisi-sisi jalan dengan beragam plat daerah. Begitu pula dengan setiap warung yang buka tak pernah kosong dari pengunjung.

Untungnya saya berangkat menggunakan taksi online sehingga saya tak perlu bingung mencari tempat perkir. Akhirnya saya berjalan cukup jauh dan melewati gang-gang kecil seraya berharap jika gang tersebut terhubung tepat ke dekat Kanzus Sholawat. Namun kepicikan saya itu kalah jauh dengan realita. Setiap gang yang saya lewati, di situ pula ribuan orang memaksa lewat sehingga beberapa kali saya harus berusaha keras memutar balik untuk menemukan jalan yang agak nyaman untuk dilewati.

Jujur saja, saya sendiri tak pernah tahu situasi lokasi tersebut. Saya hanya mengikuti ke mana kaki berjalan dan akhirnya menemui sebuah ‘pintu doraemon’ yang menghubungkan ke area jalur kereta api.

Betapa kagetnya saya setelah melewati pintu itu. Jumlah jamaah yang maha dahsyat hampir menutupi sepanjang jalur kereta api yang masih aktif ini. Tentu saja ini sangat membahayakan. Terlebih jumlah massa yang berkerumunan dengan jarak sisi rel yang kosong sangat tidak sebanding untuk menepi jika sewaktu-waktu kereta lewat. Untuk saya pribadi ini sangat tak masuk akal.  

Dan benar saja, baru saja saya melintasi sisi-sisi sepanjang rel kereta api, terdapat banyak petugas yang meniupkan pluitnya berulang kali untuk memberi peringatan kepada jamaah yang duduk-duduk di tengah rel agar menjauh dari sana. Saya berpikir, seandainya jalur kereta api bisa dialihkan, niscaya rel ini pasti akan ditutup karena saking membludaknya jamaah. Tak lama setelah itu kereta api barang melintasi rel dengan kecepatan sebagaimana standar umumnya. Sedangkan jamaah yang berada di sisi-sisi rel menutup wajah dan kepala mereka dengan payung atau tikar untuk menghindari debu-debu yang berterbangan ke arah mereka. Sungguh fenomena yang unik.

Sebetulnya, jika dilihat dari kapasitas lokasi dengan jumlah jamaah yang ada, Kanzus Sholawat sepertinya sudah tidak mampu lagi menampung antusiasme masyarakat yang ingin ikut merayakan Maulid. Bagaimana tidak, pada hari itu Pekalongan bukan hanya dipadati oleh masyarakat lokal, tetapi juga jamaah dan muhibbin dari seluruh penjuru Nusantara.

Di antara sebab meledaknya animo jamaah itu adalah karena ungkapan Maulana Habib Luthfi yang menjadi motivasi kehadiran mereka di Kanzus Sholawat,

Nek pengen anak putumu dipandang Rasulullah Saw. secara langsung, gowonen neng nggonku pas Maulid Akbar (Jika ingin anak-cucumu dipandang Rasulullah Saw. secara langsung, bawalah ke tempat saya ketika acara Maulid Akbar).”

Rasa cinta yang mendalam terhadap Rasulullah Saw. serta ingin dipandang olehnya inilah yang menjadi salah satu motivasi mengapa banyak sekali masyarakat yang antusias hadir dalam perayaan Maulid Akbar di Pekalongan. Padahal tentu mereka sudah paham bagaimana kondisi lokasi yang sangat terbatas. Bukan hanya itu, banyak dari mereka juga luntang-lantung karena tidak mendapatkan penginapan dan hotel di sana disebabkan sudah full booked, sehingga masjid-masjid dan teras-teras rumah warga menjadi pilihan alternatif untuk sekedar melepas penat.

Namun meskipun lelah, saya yakin para jamaah tetap berbahagia menghadiri acara ini sebagaimana kebahagiaan yang juga saya rasakan. Kebahagiaan ini pun sejatinya tidak hanya dirasakan oleh jamaah, tetapi juga shahibul hajat, Maulana Habib Luthfi bin Yahya. Sebagai penghormatan terhadap tamu-tamunya, beliau sudah menyiapkan lebih dari 900 ekor kambing untuk disembelih yang akan menjadi hidangan nasi kebuli bagi para jamaah seusai acara Maulid Akbar yang seluruhnya berasal dari kantung pribadinya sendiri.

Jika dipikir-pikir, berapa rupiah yang harus dikeluarkan oleh Maulana Habib Luthfi untuk menjamu para jamaah itu. Jika satu ekor kambing dihargai dua juta rupiah, maka beliau mengeluarkan biaya lebih dari satu miliar rupiah. Belum lagi beras, bumbu dan logistik yang lain. Alhasil, sekitar 9000 talam nasi kebuli siap disantap oleh jamaah sebagai Nasi Barakah Maulid Akbar. Maa Syaa Allah.

Demikianlah, saya menyaksikan, baik jamaah maupun Maulana Habib Luthfi sendiri tampak sumringah pada hari itu. Padahal para jamaah yang hadir tentu tidak akan memperoleh benefit berupa materiil. Banyak di antara mereka yang mengorbankan uang dan waktu, bahkan tak sedikit pula dari mereka yang datang dengan tidak membawa bekal apapun. Mereka datang dengan hanya bermodalkan cinta. Sedangkan mencintai itu tidak akan bisa dirasionalisasi. Semakin besar cinta seseorang maka logikanya pun semakin hilang, begitupula semakin sedikit cinta seseorang, maka kekhawatirannyalah yang semakin besar. Cinta menumbuhkan keberanian di hati para penakut dan menjadi obat bagi mereka yang sekarat.

Begitu pula dengan Maulana Habib Luthfi, kecintaannya pada umat justru dapat membangkitkan perekonomian rakyat. Acara semacam Maulid Akbar yang setidaknya mampu mendatangkan hingga sepuluh ribuan jamaah berdampak pada meningkatnya penghasilan masyarakat Pekalongan secara umum. Bagaimana tidak, warung-warung kecil mendadak ramai, pedagang-pedagang berkeliaran menawarkan produknya kepada jamaah, pengguna taksi dan ojek online meningkat tajam, hotel-hotel dan homestay seluruhnya penuh, padahal Pekalongan tidak memiliki destinasi wisata yang cukup menarik untuk dikunjungi. Sehingga tumbuh pesatnya hotel di Pekalongan sudah pasti dilatarbelakangi oleh kegiatan-kegiatan baik nasional maupun internasional yang kerap diadakan oleh Maulana Habib Lutfhi.

Dan Inilah yang sebetulnya diharapkan guru kita semua, Maulana Habib Lutfhi bin Yahya, beliau yang sangat visioner itu tahu bagaimana membangkitkan ekonomi umat sebagaimana yang sering didawuhkan. Sehingga keberkahan bukan hanya milik shahibul hajat, tetapi juga merata pada setiap elemen masyarakat.

Penulis: Khoirum Millatin

Leave a Reply

Your email address will not be published.