Home Hikmah Keistimewaan Syekh Ali al-Khawwash

Keistimewaan Syekh Ali al-Khawwash

Syekh Ali al-Khawwash adalah seorang yang ummiy, yaitu tidak bisa membaca dan menulis. Namun Allah Swt. memberikan kemuliaan berupa maqam kemursyidan kepadanya dan kewalian yang tinggi. Ia bahkan bisa menjelaskan Al-Quran dan Hadits dengan detail dan bahasa yang mudah dipahami oleh murid-muridnya sehingga hal itu membuat ulama lain bingung.

Syekh Ali al-Khawwash tinggal di Mesir. Tapi tak satupun orang yang pernah melihatnya melaksanakan salat zuhur di masjid yang ada di Mesir. Baik secara berjamaah maupun sendirian. Setiap kali azan berkumandang, ia segera menutup tokonya dan bergegas pergi dan tidak ada yang mengetahui kemana perginya. Anehnya, banyak orang yang melihatnya sedang mendirikan salat zuhur di Masjid Jami’ al Abyadh yang ada di Syam (Sekarang Suriah). Tentu saja itu sangat tidak masuk akal mengingat jarak tempuh antara Mesir ke Syam sekitar 1.182 Km. Dan apabila sudah masuk waktu salat ashar, ia sudah kembali di tokonya. Namun, peristiwa itu dibenarkan oleh penjaga masjid bahwa Syekh selalu salat zuhur di masjid tersebut sepanjang hidupnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, Syekh Ali al-Khawwash adalah orang yang sangat zuhud. Ia melakukan pekerjaan kasar untuk kebutuhan sehari-hari. Meskipun demikian, ia selalu menyedekahkan harta yang ia miliki kepada orang yang lebih membutuhkan darinya.

Syekh Ali al-Khawwash berkata,

“Apa yang ada di dalam hati seseorang itu akan tampak melalui wajahnya. Apa yang ada dalam nafsu seseorang itu akan tampak melalui pakaiannya. Apa yang ada dalam akal seseorang itu akan tampak melalui pandangannya. Apa yang ada dalam sirr seseorang, itu akan tampak melalui ucapannya. Apa yang ada dalam ruh seseorang akan tampak melalui adabnya. Dan apa yang ada dalam seluruh bentuk badan itu akan tampak melalui tingkah lakunya.”

Menurutnya, rizki dari Allah Swt. itu akan selalu berputar dan silih berganti mencari orang lain diberi rizki. Sedangkan orang tersebut juga selalu bingung untuk mencari rizki sampai ia mendapatkannya. Jika hal itu dilakukan oleh keduanya, maka tidak akan ada titik temu dan seterusnya akan saling mencari. Namun, jika salah satunya diam, maka yang lain lah yang akan bergerak. Artinya, seseoang yang berlebihan dalam mengejar harta, maka justru akan ditinggal oleh harta tersebut. Dengan demikian, jangan buat diri kita terlena dengan harta. Sebaliknya, biarkan harta yang mencari kita. Sehingga, tidak ada sifat tamak dan riya’ ketika kita mendapatkan harta tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published.