Jakarta, JATMAN Online – Sekretaris Awwal Idaroh Aliyah Jam’iyyah Ahlith Thariqah al Mu’tabarah an Nahdliyyah (JATMAN) KH. Ali M. Abdillah menyampaikan penting sekali untuk kita mengikuti tarekat mu’tabarah.
“Dalam bertarekat itu penting sekali mengikuti tarekat mu’tabarah agar terhindar dari ajaran-ajaran yang menyimpang,” kata Kiai Ali M. Abdillah dalam acara JOL Discussion #Seri-3 dengan tema ‘Pentingkah Bertarekat Mu’tabarah?’ melalui Zoom Meting, pada Jum’at (26/08).
Kiai Ali kemudian menjelaskan karena kita ibarat mau melakukan traveling ruhani, itu juga harus memenuhi persyaratan yang komplit seperti halnya kita ingin melakukan traveling haji dan umrah
“Jadi semuanya harus memiliki persyaratan mulai dari pembimbing, sarana prasaran, termasuk pesawat yang akan kita pakai,” jelasnya.
Sekretaris Komisi Pengkajian dan Penelitian Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini memaparkan salah satu syarat tarekat mu’tabarah yaitu memiliki sanad muttasil (bersambung).
“Ini memiliki peranan penting untuk menjaga konsentitas keaslian ajaran sebuah thariqah yang diperoleh dari guru yang kita temui sekarang bertemu dengan guru sebelumnya, ucap Kiai Ali.
Pertemuan ini bukan sebatas ambil ijazah lalu pergi, lanjutnya, tapi pertemuan ini yang dibarengi tarbiyah ilmu dan tarbiyah ruhaniyah. Jadi pertemuan dengan guru-guru yang bersanad sampai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam itu tidak sebatas bertemu secara jasmani, tapi secara ruhani juga.
“Dengan demikian sanad muttasil yang disertai dengan bimbingan ilmu ini akan menjadi dasar untuk melihat apakah thariqah itu mu’tabarah atau tidak,” ujarnya.
Beliau yang juga sebagai Kaprodi Sejarah Peradaban Islam S2 Unusia Jakarta mengatakan sebab misalkan dia hanya berdasarkan punya sanad namun praktiknya aneh seperti ke arah perdukunan atau komersial.
“Padahal guru-guru sebelumnya itu orang-orang yang wara’, zuhud, istiqamah, dan yang paling istimewah adalah kekasihnya Allah,” paparnya.
Ketika ada yang tidak memenuhi sanad yang muttasil dan mendapatkan bimbingan tarbiyah ilmu dan ruhaniyah maka ada potensi akan masuk ke dalam ghairu mu’tabarah. Karena ada sanad yang terputus.
Ketua PW Matan DKI Jakarta juga ini menerangkan tarekat mu’tabarah tujuaanya hanya untuk mendapatkan ridha Allah supaya diberikan wushul illah. Jadi tidak untuk perdukunan, kesaktian, atau komersialisasi.
“Karena orang-orang yang sudah level ini, itu mendapatkan anugrah dari Allah dijaga hatinya dari hubbuddunya (cinta dunia) dan hubbul mall (cinta harta),” terangnya.
Menurut Ulama yang menjadi Pengasuh Pondok Pesantren al Rabbani Islamic College Cikeas ini, dengan zikir dan riyadhoh mujahadah yang istiqamah itu kotoran-kotaran batin yang ada pada dirinya akan bersih. Ketika hatinya bersih, jiwanya bersih sudah ada tarikan-tarikan ke hawa nafsu dan duniawi.
“Berbeda dengan orang yang masih pada posisi belum tuntas hawa nafsunya. Maka ada potensi untuk membawa thariqah ini agak melenceng, artinya digunakan untuk kepentingan-kepentingan duniawi dan hawa nafsu,” kata kiai Ali.
- Baca Juga: Kenapa Harus Mengikuti Tarekat Mu’tabarah?
Kiai Ali menyampaikan dalam perkembangan zaman saat ini, syariat dipahami sebatas fiqih. Seolah-olah kalau orang shalat hanya berdasarkan fiqih dianggap sudah cukup. Misalnya orang shalat, dari wudhu kemudian takbir hingga salam lalu lupa sama Allah secara fiqih sah.
“Tapi secara esensi atau tasawuf, al Qur’an sudah menjelaskan shalat itu untuk mengingat-Ku. Jadi esensi ini tidak bisa dicari dengan fiqih tapi harus melalui ilmu tasawuf yang di praktikkan melalui pengamalan thariqah, sehingga bisa merasakan nikmatnya khusu’,” jelasnya.
Kiai Ali menegaskan kalau orang-orang yang mengikuti tarekat mu’tabarah itu tidak akan aneh-aneh dalam praktik syariat, hakekat, tarekat, dan ma’rifat.
“Praktik hakikat dan ma’rifatnya disembunyikan antara dirinya dengan Allah. Ditampilkan dalam umum sebagai praktik syariat, tapi sudah meliputi zhahir dan batin,” ungkapnya.
Leave a Reply