Syekh Abu Abdullah Muhammad Abu al-Fath al-Harawi mengisahkan bahwa suatu hari dirinya menghadiri majlis pengajian Syekh Abdul Qadir al-Jilani.
Sang Syekh sedang memberi pengajian dengan penuh semangat, namun tak ada angin dan tak ada hujan, tiba-tiba Syekh menyatakan,
“Kalau Allah menghendaki, Dia akan mengirim beberapa ekor burung hijau juga untuk mendengarkan ceramahku.“
Tidak ada seorang pun yang tahu mengapa Syekh Abdul Qadir mengatakan hal itu di tengah ceramahnya. Mengapa yang terlintas di dalam pikirannya adalah burung berwarna hijau, bukan binatang atau mahluk lain.
Tak lama kemudian datanglah segerombolan burung berwarna hijau ke majelis ilmu tersebut. Kedatangan mereka disaksikan oleh seluruh jama’ah pengajian. Bertepatan dengan itu, Syekh Abdul Qadir juga tengah menjelaskan mengenai kekuasaan Allah Awt.
Karena penjelasannya begitu menarik dan mendalam, maka seluruh jamaah sangat khusyuk dan sungguh-sungguh dalam mendengarkan ceramah Syekh Abdul Qadir tersebut.
Di tengah suasana yang begitu khusyuk, tiba-tiba datang lagi seekor burung hijau yang lain dengan bentuk yang sungguh menarik dan sangat indah.
Para jamaah yang semula khusyuk mendengarkan ceramah akhirnya mengarahkan perhatiannya kepada burung hijau tersebut dan mulai tidak konsentrasi pada ceramah Syekh Abdul Qadir.
Melihat buyarnya perhatian para jamaahnya, Syekh Abdul Qadir langsung berkata,
“Hai, Demi Allah Yang Maha Mulia, Yang disembah, kalau Engkau menghendaki aku untuk berkata pada burung itu, ‘matilah dengan terpotong’, maka burung itu akan mati dalam kondisi terpotong.“
Dan terbuktilah apa yang dikatakan Syekh Abdul Qadir. burung yang menjadi perhatian para jamaah itu mati seketika di atas lantai dalam kondisi terpotong tubuhnya.
Wallahu a’lam bisshawwab
Leave a Reply