Menjelang bulan suci Ramadan, biasanya masyarakat berlomba-lomba menyambutnya dengan berbagai cara. Salah satunya terlihat dengan banyaknya spanduk-spanduk bertema “Tarhib Ramadan” di berbagai tempat.
Sebenarnya, apakah makna dari “Tarhib Ramadan”?
Secara etimologis (bahasa), Tarhib berasal dari kata:
رَحِبَ – يَرْحَبُ – رَحْبٌ
“Rahiba – Yarhabu – Rahbun“
Yang berarti luas, lapang dan lebar.
Selanjutnya menjadi bentuk fi’il:
رَحَّبَ – يُرَحِّبُ – تَرْحِيْبًا
“Rahhaba – Yurahhibu – Tarhiban”
Yang mengandung arti menyambut, menerima dengan tangan terbuka dengan penuh kelapangan, sukacita, kelebaran dan keterbukaan hati.
Maka, ada istilah Marhaban yang memiliki akar kata yang sama dengan Tarhib, yang bermakna sambutan atas kedatangan sesuatu hal, yang disambut dengan keluasan hati, kesenangan jiwa, keceriaan dan tangan terbuka.
Tarhib Ramadan bisa dimaknai sebagai kegiatan yang dilakukan dalam rangka menyambut kedatangan bulan Ramadan dengan segala kesiapan, keluasan dan kelapangan jiwa dan raga.
Maka dari itu, biasa ada ungkapan yang sudah akrab kita dengar:
“Marhaban yaa Ramadan”.
Namun, ada juga dalam Bahasa Arab, kata Tarhib dengan huruf Ha besar yaitu تَرْهِيْب yang berasal dari kata:
رَهَّبَ – يُرَهِّبُ – تَرْهِيْبًا
“Rahhaba – Yurahhibu – Tarhibban“
artinya ancaman, mengancam atau menakut-nakuti. Istilah Tarhib yang ini seringkali disandingkan atau digandengkan dengan istilah “Targhib” yang berarti motivasi.
Tarhib yang bermakna menyambut Ramadan, paling tepat jika memakai kata تَرْحِيْب dengan huruf Ha tipis (ح), bukan dengan kata تَرْهِيْب dengan huruf Ha besar yang berarti ancaman.
Maka, penting untuk menuliskannya dengan dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Arabnya agar tidak salah makna.
Berkaitan dengan penyambutan bulan Ramadan, ada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA:
“Bahwasanya Nabi SAW naik ke mimbar. Setiap beliau naik ke anak tangga pertama, kedua, dan ketiga beliau mengucapkan: Aamiin”.
Lalu para Sahabat bertanya:
“Wahai Rasulullah, kami semua mendengar engkau berkata: “Aamiin Aamiin Aamiin”.
Beliau menjawab:
“Ketika aku menaiki tangga pertama, Jibril datang kepadaku dan berkata:
“Semoga hilang keberuntungan seorang yang memasuki bulan Ramadan namun dosanya tidak diampuni.”
Maka aku pun berkata: “Aamiin.”
Kemudian Dia (Jibril) berkata:
“Semoga hilang keberuntungan dari seorang hamba yang jika masih mendapati kedua atau salah satu orangtuanya masih hidup, namun keberadaan kedua orangtuanya tidak menjadikan wasilah (perantara) untuk membuatnya masuk ke dalam surga.”
Aku pun berkata: “Aamiin.”
Kemudian Dia (Jibril) berkata:
“Semoga tidak beruntung seorang hamba, yang jika namamu disebutkan di hadapannya tapi dia tidak bershalawat untukmu.”
Maka aku pun berkata: “Aamiin”
(Hadis Shahih riwayat Ibnu Khuzaimah)
Maka, bagi orang yang masih terus melakukan maksiat dan dosa hingga datang Ramadan dan belum juga mau bertaubat, bisa jadi dia tidak akan bisa menghidupkan bulan Ramadan. Kecuali hanya makan, tidur, malas ibadah dan malas beramal shalih.
Hadis tersebut juga mengajarkan tentang doa yang dipimpin seseorang dan yang lain mengamininya. Bahkan, yang berdoa di hadis tersebut adalah malaikat Jibril dan diamini oleh Rasulullah. Maka berzikir dan berdoa bersama kemudian diaminkan bukanlah perkara yang bid’ah, tapi merupakan suatu kesunahan.
Juga, hadis tersebut menganjurkan bagi seorang anak yang masih punya orangtua agar melaksanakan birrulwalidain, yaitu berbuat baik kepada orangtua. Jika anak tidak hormat dan tidak mau menolong orangtuanya, apalagi menyakitinya, maka hal itu bisa membuatnya sulit meraih surga.
Semoga kita mampu menyambut Ramadan dengan penuh keberuntungan dan sukacita, serta mampu meraih pahala sebanyak-banyaknya. Aamiin.
Marhaban Yaa Ramadan.
وَاللّٰهُ أَعْلَمُ بِاالصَّوَابِ
Tausiah oleh: Sayyid Seif Alwi
Pewarta: Tim Katib Majelis Ahbaburrosul
Editor: Warto’i
Leave a Reply