Tangerang Selatan, JATMAN Online – Wakil Ketua MATAN DKI Jakarta, Dr. Idris Wasahua dalam dalam menyampaikan materi menjelaskan secara sistematis mengenai latar belakang lahirnya MATAN sebagai organisasi Kemahasiswaan di Masjid al-Madina, Rumi Centre, Ciputat, Tangerang Selatan, Kamis (30/06).
Doktor Hukum lulusan S3 Universitas Brawijaya Malang ini mengatakan, MATAN hadir untuk memastikan keberlangsungan bangunan Keindonesiaan tetap berdiri kokoh. Idris mewanti-wanti, akhir-akhir ini bangunan Keindonesian ini sedang mengalami goncangan yang ditandai munculnya ideologi yang mengancam NKRI, maraknya gerakan terorisme, tumbuh suburnya gerakan dan ideologi radikalisme di sejumlah Perguruan Tinggi di Indonesia serta terjadinya kekosongan ruang batin di kalangan mahasiswa.
Atas kondisi tersebut kata Idris, MATAN, sebagai organisasi kemahasiswaan memiliki tujuan jangka panjang, antara lain:
Pertama, mempertahankan Pancasila dan UUD 1945 sebagai ideologi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Kedua, membendung laju dan tumbuh suburnya gerakan ekstrimisme dan latenisme di seluruh lingkungan Perguruan Tinggi Se-Indonesia.
Ketiga, melestarikan faham Islam ala Alhussunah wal jam’ah yang berbasis pada Islam moderat, toleran dan inklusif di lingkungan mahasiswa.
Keempat, menyeimbangkan aspek spiritual dan intelektual di kalangan mahasiswa serta meningkatkan inklusivitas berfikir, keselarasan dalam bertindak dan kedalaman spiritual dalam jiwa kepemudaan untuk membangun bangsa, memperteguh sifat nasionalisme, ikut menjaga kesatuan dan keutuhan NKRI serta menjaga tetap tegaknya NKRI dengan pengamalan dan penghayatan etika tasawuf.
Untuk diketahui, MATAN diprakarsai oleh Maulana Habib Lufthi bin Yahya yang merupakan Rois ‘Am Idraroh Aliyah JATMAN yang juga merupakan salah satu Anggota Dewan Pertimbangan Presiden RI.
Idris mengatakan, walaupun organisasi ini baru didirikan pada tahun 2012, namun pergerakan MATAN di Kampus di berbagai daerah sangat mendapat respons positif khusunya di kalangan mahasiswa.
“Hal ini patut disyukuri karena hal ini menunjukkan bahwa MATAN cukup diminati oleh mahasiswa sebagai salah satu alternatif organisasi Mahasiswa yang memiliki perbedaan karakteristik dengan organisasi mahasiswa lainya”, pungkas Idris.
Idris yang juga merupakan advokat senior Peradi ini lebih lanjut mengurai soal tantangan anggota MATAN saat ini. Menurutnya, salah satu tantangan anggota MATAN adalah mengubah image masyarakat yang seringkali salah faham terhadap dunia tasawuf/thariqah.
Padahal, secara historis, gerakan perlawanan terhadap penjajah Belanda ketika itu banyak dipelopori oleh para pengamal thariqah yang memiliki semangat cinta tanah air yang tinggi untuk membebaskan rakyat Indonesia dari belenggu penjajah Belanda. Idris lantas menyebut beberapa tokoh penting dan berjasa melawan penjajah dari kalangan thariqah.
“Beberapa ulama pengamal thariqah yang sangat masyhur yang memimpin perlawanan terhadap Belanda antara lain: Syekh Yusuf Al-Makassari dari Makassar (Mursyid Thoriqoh Khalwatiyah) yang kemudian diasingkan ke Afrika Selatan, Syekh Abdul Karim Al-Bantani di Banten (Mursyid Thariqah Qodiriyah Naqsyahbandiyah) dan Pangeran Diponegoro (Pengamal thariqah Syatariah)”, sebut Idris.
Idris menambahkan, Islam yang datang ke Indonesia di bawa oleh kalangan sufi yang terkenal penuh cinta kasih dalam mengajarkan Islam. Karena itu, ia mengajak seluruh kader MATAN agar tidak minder mengambil bagian dalam usaha menyelamatkan keberlangsungan Indonesia.
“Melihat aspek kesejarahan terkait kontribusi besar para pengamal thariqah di Indonesia, maka teman-teman mahasiswa jangan merasa minder dengan organisasi ini, karena kita punya sejarah panjang dalam ikut berkontribusi positif terhadap negeri ini”, katanya.
Sementara itu, terkait pemahaman yang keliru terhadap thariqah, Idris mengatakan, itu disebabkan oleh permainan politik busuk, khusunya oleh Belanda pada masa penjajahan. Belanda, kata Idris melabeli tokoh-tokoh muslim pengamal thariqah sebagai yang sesat syirik dan lain-lain sebagainya.
“Kalaupun ada sebagian masyarakat yang sampai hari ini masih salah faham terhadap thariqah dapat dimaklumi karena itu merupakan sisa-sisa warisan politik busuk yang dilakukan penjajah Belanda ketika itu yang memang sengaja menjelekkan, bahkan membuat kesan bahwa thariqah itu sesat, syirik dan lain-lain sebagainya dengan tujuan agar umat Islam ketika itu menjauhi ulama-ulama thariqah yang sangat dibenci Belanda karena selalu menjadi pelopor gerakan gerakan perlawanan terhadap mereka”, tutup Indris.
Di akhir kegiatan, Ketua Harian Rumi Centre Habib Muchsin Mulachela memberikan kesempatan kepada seluruh para peserta untuk bertabarruk mencium rambut Rasululllah SAW yang berada di Rumi Centre. Lalu disusul dengan proses ikrar anggota MATAN yang dipimpin oleh Fathuddin Klimas selaku Pembina MATAN UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Leave a Reply