Karamah Syekh Abdul Qadir al-Jilani lainnya adalah waliyullah tersebut mengetahui kondisi santrinya, apakah mereka suci atau tidak.
Seperti dikisahkan oleh Abu Najjar bahwa suatu hari pernah ada orang dari Jilan, yang nyantri di Madrasah Syekh Abdul Qadir, anak ini datang kepada Syekh untuk belajar fiqih.
Ketika berkumandang azan zuhur, seluruh santri berebut tempat di barisan paling depan untuk mengaji kepada Syekh Abdul Qodir. Masing-masing santri akan meletakkan kitabnya di dekat sajadah Syekh Abdul Qadir. Santri yang meletakkan kitabnya di dekat sajadah itu akan mendapat giliran pertama untuk mengaji dengan Syekh Abdul Qadir selepas salat zuhur.
Sebelum waktu zuhur tiba, santri yang berasal dari Jilan itu tertidur hingga dirinya bermimpi basah. Ia bangun saat azan zuhur berkumandang. Karenanya ia tidak sempat mandi besar, karena seandainya ia mandi terlebih dahulu, maka ia tidak akan mendapat giliran pertama untuk membaca kitab di hadapan Syekh Abdul Qadir. Sehingga, tanpa mandi junub terlebih dahulu, santri itu langsung menghamburkan diri ke masjid dan meletakkan kitabnya di dekat sajadah Syekh Abdul Qadir.
Setelah salat zuhur selesai, pengajian pun dimulai. Santri dari Jilan itu langsung duduk paling depan sambil membuka kitab untuk dibaca di hadapan Syekh Abdul Qadir. Namun saat baru saja mau membaca kitab, tiba-tiba Syekh Abdul Qadir berkata, “Pergi mandi dulu kau.“ Saat itu juga si santri langsung pergi keluar masjid untuk mandi.
Jadi meskipun tidak diberitahu, Syekh Abdul Qadir tetap tahu apakah kondisi santrinya dalam keadaan suci atau tidak.
Leave a Reply