Al-Salik, sebagaimana yang disampaikan oleh Ibnu Arabi adalah orang yang melihat makhluk dan menjadikannya petunjuk menuju Allah sehingga ia masih belum terlepas dari pengaruh nafsu. Jika beribadah sendiri tanpa bimbingan guru mursyid, kadang setan mengganggu dengan berbagai kesesatan. Karenanya, ia membutuhkan mursyid baik yang hidup maupun Mursyid Ma’nawi seperti Ilham, serius dalam mendalami al-Quran dan Sunnah serta ijma’ para ulama.
Sementara itu, KH. Muhammad Shiddiq Kudus mendefinisikan al-Majdzub adalah orang yang melihat Allah dan menjadikannya petunjuk menuju makhluk.
Kiai Shiddiq mengurai lebih rinci perbedaan al-Salik al-Majdzub dengan al-Majdzub al-Salik, berkaitan dengan keyakinan sebagian pengikut Naqsabandiyah yang mengatakan bahwa permulaan tarekat kami adalah akhir dari tarekat lain. Menurut Kiai Shiddiq, maksud ungkapan akhir dari al-Salik al-Majdzub adalah permulaan al-Majdzub al-Salik, karena al-Majdzub al-Salik menyaksikan segala sesuatu ‘billah’, sedangkan al-Salik al-Majdzub melihat tanda-tanda kebesaran Allah yang ada pada makhluk dahulu, baru dengan itu ia mengenali asma Allah. Dari mengenal asma tersebut ia selanjutnya dapat mengenali adanya sifat Allah. Adanya sifat tersebut menuntun dia untuk mengenal Wujud Dzat.
Lebih lanjut, Kiai Shiddiq menjelaskan bahwa al-Salik al-Majdzub berbuat dengan sebenar-benarnya fana’ dan tidak sadar. Sedangkan al-Majdzub al-Salik di perjalankan dengan jalur baqa’ dan sadar. Maka sesungguhnya al-Salik al-Majdzub itu sedang mengalami pendakian ruhaniyah (taraqqiy) dari makhluk kepada al-Haqq, yakni ia berangkat dari kesadaran penyaksian terhadap tanda-tanda Allah kepada kesadaran sifat kemudian kepada kesadaran Dzat dan berakhir pada fana’.
Sebaliknya, al-Majdzub al-Salik berada pada posisi menurun (tadzalli) dari al-Haqq kepada makhluk, yakni menurun dari kesadaran penyaksian terhadap Dzat kepada kesadaran penyaksian sifat baru kemudian kepada kesadaran penyaksian tanda-tanda Allah dan berakhir pada baqa’.
Karena itu, al-Majdzub al-Salik lebih tinggi derajatnya daripada al-Salik al-Majdzub. Al-Salik al-Majdzub selalu memandang segala sesuatu dengan pandangan ‘lillah’, sedangkan al-Majdzub al-Salik memandangnya dengan ‘billah’. Inilah mengapa alasannya kaum Naqsabandiyah mengatakan suluknya sebagai berputar melingkar (mustadir) sedangkan suluk tarekat yang lainnya memanjang (mustathil).
Namun ada juga yang mengatakan bahwa al-Salik al-Majdzub lebih utama dari al-Majdzub al-Salik, karena ia dijadikan pemilik konsistensi dan ilmu Ahwal al Thariq, mengetahui cara menundukkan nafsu. Ia juga sampai kepada derajat tersebut dengan jerih payah, kelelahan dan kesulitan. Karenanya wajar jika al-Salik al-Majdzub lebih tinggi nilainya, lebih luas kemanfaatannya dan lebih berguna tarbiyahnya dari al-Majdzub al-Salik.
Di luar dari perdebatan itu, Kiai Shiddiq beranggapan bahwa keduanya memiliki keutamaan masing-masing dari cara pandang yang berbeda terhadap realitas dan konsistensi. Tapi, dari keduanya, baik al-Majdzub al-Salik maupun al-Salik al-Majdzub tidak bisa disematkan pada nabi dan rasul karena mereka tersucikan dari nafsu sedari awalnya yang selalu berpijak pada keluasan Hadrah ilahiyah.
Sumber: KH. Dr. Akhmad Sodiq, MA., Buku Mursyid TQN Kontemporer KH. Muhammad Shiddiq Al-Shalihi Kudus, Samudra Biru, Yogyakarta, 2016.
Leave a Reply