Jakarta, JATMAN Online – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Pondok Pesantren Cipasung, Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, pada Kamis-Jumat, 24-25 Maret 2022.
Rais ‘Aam PBNU KH Miftachul Akhyar menyampaikan dua hal yang jika menimpa suatu organisasi maka akan berdampak pada sulitnya untuk bangkit.
“Ada dua hal yang manakala menimpa suatu kaum, suatu organisasi, menimpa kelompok atau komunitas maka kerugian dan kehancurannya tidak bisa kita bayangkan. Manakala sudah menimpa maka sulit orang tersebut akan mampu bangkit kembali,” katanya menjelaskan maqalah ulama, yang dikutip dari laman NU Online (26/03).
Apabila hal itu menimpa, maka organisasi itu akan jatuh hingga akhirnya menjadi merugi. Sebab, sifat dua hal tersebut dapat merusak sehingga berdampak pada kerugian.
Hal pertama yang membuat organisasi sulit bangkit adalah merasa single majority (paling besar sendiri). Suatu kelompok yang tidur di saat merasa mayoritas terbesar. Perasaan demikian, katanya, biasanya dialami organisasi atau kelompok orang yang sudah mapan.
“Kemapanan momok bagi kehidupan kita, momok bagi organisasi kita. Kalau orang sudah merasa mapan, organisasi sudah merasa mapan, tinggal kita lihat bagaimana erosi yang bakal dialami,” ungkap Kiai Miftach.
Kiai Miftach menjelaskan bahwa kelompok ini berpikir dengan tiduran saja, semua hal bisa diselesaikan. Hal ini berdampak pada mandegnya laju organisasi sehingga tidak ada dinamika dan aktivitas yang berarti.
“Ini aneh. Bangsa lain sedang bangkit, dirinya malah mundur,” ujar Pengasuh Pondok Pesantren Miftachussunnah, Surabaya, Jawa Timur itu.
Oleh karena itu, kebesaran jumlah Nahdliyin dan Nahdliyat adalah nikmat yang besar. “Betapa kalau ini kita gunakan dengan produk-produk yang besar pula seimbang dengan kebesarannya, saya yakin kaum lain, organisasi lain, yang lainnya akan memberikan hormat dan penghormatan-penghormatan selanjutnya akan kita terima,” tegasnya.
Leave a Reply