Jombang, JATMAN Online – Rais Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Ubaidullah Shodaqoh mengungkapkan bahwa sebelum seseorang mencapai derajat sebagai orang yang dekat dengan Allah, seseorang yang ahli zikir akan diuji melalui tiga tahap.
“Syekh Muhyiddin Ibnu Arabi berkata, orang yang mau zikir kepada Allah maka akan dibuka rahasia-rahasianya,” kata Kiai Ubaidullah saat mengisi acara haul ke-44 KH Bisri Syansuri di Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar Jombang, Jawa Timur, Ahad (22/1/2023).
- Baca Juga: Puasa Rajab, Sunah Atau Bid’ah?
Dikutip dari NU Online, Kiai Ubaidullah memaparkan, zikir yang dimaksud di sini adalah semua zikir yang baik kepada Allah, semisal bacaan laa Ilaha Illallah dan subhanallah. Pada tahap pertama rahasia yang dibuka untuk orang ahli zikir yaitu rahasia barang keras seperti batu, besi, emas, akik dan lain sebagainya.
“Jika kita zikir serius, semisal baca laa Ilaha illallah dan subhanallah maka dibuka rahasia Allah. Akhirnya tahu khasiat suatu barang yang diberikan Allah,” ujarnya.
Kiai Ubaidullah mengingatkan, ketika dibukakan oleh Allah akan rahasia-rahasianya maka harus hati-hati dalam bicara. Jangan juga diberi tahu kepada orang lain atau dimanfaatkan untuk cari uang. Karena nanti akan dimasukkan ke kategori orang yang tidak bisa dipercaya untuk membawa rahasia Allah.
“Jika tidak tergoda menyebarkan rahasia Allah, maka akan naik tingkat kedua dan diuji lagi dengan dibukanya rahasia tumbuhan,” imbuhnya.
Rahasia tumbuhan ini, lanjutnya, akan membuat seseorang tahu manfaat dari setiap tumbuhan. Tumbuhan yang ada di bumi Allah cukup banyak dan memiliki kegunaan masing-masing.
Kiai Ubaidullah menjelaskan, manfaat rajin zikir secara terus menerus, maka akan diuji lagi tahap ketiga yaitu dibukakan rahasia langit bumi, lalu rahasianya para syaitan dan jin, kemudian rahasianya malaikat.
Menurutnya, rahasia-rahasia tersebut dibuka oleh Allah ketika seseorang bisa menjaga diri untuk tidak membuka ke publik. Fokus di zikir dan Allah saja.
“Lalu diuji lagi dengan dibuka rahasianya ilmu. Ini adalah tahapan. Jangan heran ada ulama yang bisa berbagai bahasa padahal tidak tahu kapan belajarnya,” ungkapnya.
Diketahui, KH Bisri Syansuri termasuk seorang pendiri NU (Nahdlatul Ulama) di tahun 1926. Saat para ulama menyepakati berdirinya organisasi NU. KH. Bisri Syansuri duduk sebagai A’wan (anggota) Syuriah dalam susunan PBNU pertama kali itu.
Leave a Reply