Home Berita Rakernas LDNU 2022, Gus Yahya Minta Buat Metode Dakwah Sesuai Segmennya

Rakernas LDNU 2022, Gus Yahya Minta Buat Metode Dakwah Sesuai Segmennya

Jakarta, JATMAN Online – Lembaga Dakwah (LD) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar agenda Rapat Kerja Nasional (Rakernas) IX di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, pada Selasa (25/10).

Rakernas ini mengangkat tema Revitalisasi Dakwah NU: Merawat Jagat, Membangun Peradaban Dunia akan berlangsung hingga Kamis (27/10/2022) mendatang.

Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) meresmikan dan membuka rangkaian agenda Rapat Kerja Nasional (Rakernas) IX Lembaga Dakwah (LD) PBNU.

“Saya ucapkan selamat bermusyawarah, selamat rapat, dan marilah bersama-sama kita buka secara resmi Rakernas LD PBNU ini dengan membaca ummul kitab,” kata Gus Yahya.

Dalam sambutannya, Gus Yahya meminta Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) untuk membuat metode serta pendekatan dakwah yang mampu menyasar berbagai segmen lapisan masyarakat.

“Harus ada kesadaran tentang segmentasi masyarakat yang beragam dan masing-masing membutuhkan metode dan pendekatan dakwah yang berbeda-beda. Oleh karena itu harus ada pendekatan yang beragam juga,” jelasnya.

Ia mengatakan sebanyak 59,2 persen dari jumlah penduduk Muslim Indonesia mengaku dekat dengan NU. Meski begitu, mereka yang mengaku NU itu sangat beragam.

“(Warga NU) itu macam-macam isinya. Jangan dianggap semua sama. NU sudah tumbuh sedemikian rupa, nyaris membentuk satu peradaban tersendiri,” ujarnya.

“Di NU itu ada kiainya, ada santrinya, ada tukang becak, dan semuanya merasa NU. Maka tidak bisa Lembaga Dakwah sebagai entitas pembuat kebijakan hanya berpikir satu segmen saja,” imbuhnya

PBNU, lanjutnya, cenderung menerapkan strategi yang dianggap masih tradisional lewat ceramah, tausiyah, maupun pengajian. Jika sasarannya adalah santri, maka strategi tersebut sangat cocok, berbeda halnya jika menyangkut masyarakat nonsantri.

Menurutnya, perlu ada suatu terobosan agar dakwah dapat menyasar semua kalangan dengan berbagai pendekatan-pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing segmen.

Ia mencontohkan perlunya perluasan metode dakwah lewat ruang-ruang digital. Berdasarkan survei, generasi Z menyebut platform internet sangat dominan sebagai sumber keagamaan.

“Mereka ini sudah tak sama cara berpikirnya dengan generasi kita-kita, mentalnya beda dan cara berpikirnya beda. Mereka tak bisa kita tinggalkan di arena dakwah,” paparnya.

Di samping itu, Gus Yahya juga menyinggung wawasan LDNU yang mesti lebih luas. Menurutnya, globalisasi telah mengikat seluruh warga dunia yang tidak bisa terlepas dari dinamika global secara keseluruhan.

“Kita perlu paham bagaimana konteks global dalam pergulatan dakwah kita, supaya kita mendapatkan wawasan tentang seluk beluk wawasan global ini. Kita bisa memikirkan materi, konten, dan strategi dakwah sehingga kita tahu kedudukannya dalam konteks dinamika global,” ungkapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.