Daerah Banyumas yang pertama kali dijadikan tempat pengembangan tarekat adalah Desa Kedung Paruk Kecamatan Kembaran. Di Kedung Paruk Muhammad Ilyas mengembangkan dan memperkenalkan Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah kepada masyarakat sekitar. Muhammad Ilyas bersama anaknya yaitu Syekh Abdul Malik (keturunan dari istri keduanya) bersama- sama mengembangkan tarekat ini. Syekh Abdul Malik disamping mengajarkan Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah juga mengajarkan Tarekat Syadziliyah sehingga beliau dikenal sebagai guru besar Tarekat Naqsyabandiyah dan Tarekat Syadziliah di Indonesia. Ijazah mursyid beliau dapatkan dari ayahandanya, sedangkan ijazah mursyid Tarekat Syadziliyah beliau peroleh dari al-Qutub al-‘Arif Billah as-Sayyid Ahmad Nahrawi al-Makki Mekkah.
Tag: Ulama
Mengenal Syekh Abdul Malik Purwokerto; Mursyid yang Dicintai Para Habaib (2)
Sejak kecil, Abdul Malik memperoleh pengasuhan dan pendidikan secara langsung dari kedua orang tuanya. Setelah belajar al-Qur’an kepada ayahnya, Abdul Malik diperintahkan untuk melanjutkan pendidikannya kepada Kiai Abu bakar bin Haji Yahya Ngasinan, Kebasen, Banyumas.
Mengenal Syekh Abdul Malik Purwokerto; Mursyid yang Dicintai Para Habaib (1)
Muhammad Ash’ad bin Muhammad Ilyas atau yang kerap disapa dengan panggilan Syekh Abdul Malik Kedung Paruk lahir pada hari Jum’at, tanggal 3 Rajab tahun 1294 H atau bertepatan pada tahun 1881 M, di Purwekerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
Kisah Persahabatan Habib Hasyim bin Umar bin Yahya dengan Habib Ahmad Bin Abdullah bin Thalib Al-Attas (5)
Habib Hasyim bin Yahya (w. 1930) dan Habib Ahmad Al-Attas (w. 1929 M) merupakan dua ulama Al-Arif billah yang hidup dalam satu masa di Pekalongan dan bertempat di lokasi yang tidak berjauhan. Dikisahkan bahwa ketika Habib Hasyim hendak melakukan satu kegiatan atau rencana, beliau selalu meminta izin dan saran dari Habib Ahmad bin Thalib al-Attas. Begitu juga sebaliknya jika belum meminta restu dari Habib Hasyim, Habib Ahmad Al-Attas tidak akan berani melangkah.
Kedermawanan Habib Hasyim bin Umar bin Yahya dalam Berdakwah (4)
Habib Hasyim terkenal sebagai sosok yang dermawan. Setiap hari setelah ber-khalwat, berzikir, membaca Al-Qur’an dan membaca kitab yang rutin beliau lakukan ba‘da shalat subuh, beliau kemudian keluar dari tempat khalwat, dan pergi ke desa-desa dan daerah-daerah untuk melakukan kegiatan Amaliah Shadaqah dengan membagikan harta kepada orang-orang yang tidak mampu.
Habib Hasyim bin Umar bin Yahya; Mendirikan Instansi Pendidikan dan Memperluas Jejak Keislaman (3)
Selain masjid, untuk menyebarkan ilmu agama Habib Hasyim juga membangun Pondok Pesantren di Kota Pekalongan. Pondok tersebut bernama Al-Inshof yang berada di sebelah Masjid Al-Nur. Keberadaan Pesantren ini menambah bersinarnya cahaya keagamaan di Kota Pekalongan, bersama pesantren-pesantren lain yang sudah berdiri sebelumnya, seperti Pesantren Kiai Khomsa di Landungsari, Pesantren Kiai Agus di Kenayagan, Pesantren Kiai Murtadho di Sampangan, Pesantren Kiai Abdul Aziz di Banyurip dan yang lainnya.
Sanad Keilmuan Habib Hasyim bin Umar bin Yahya serta Perjalanan Dakwahnya (2)
Pendidikan Habib Hasyim bin Umar bin Yahya dimulai bersama ayah beliau sendiri yaitu al-Habib Umar bin Thoha bin Yahya di Karangampel, Indramayu. Kemudian beliau melanjutkan belajar agama dengan Habib Yusuf bin Yahya di Indramayu. Ketika usia beliau sekitar 25 tahun beliau, kemudian berguru kepada Mbah KH. Sholeh Darat di Semarang.
Biografi Habib Hasyim bin Umar bin Yahya Pekalongan (1)
Habib Hasyim bin Umar bin Yahya merupakan kakek dari Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya Pekalongan. Beliau lahir hari Senin bulan Jumadil Akhir tahun 1280 H/1862 M, di Karangampel, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat.
Mengenal Syekh Tolhah Cirebon dan Perkembangan TQN di Jawa Barat
Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) ialah gabungan dari Tarekat Qadiriyah dan Tarekat Naqsyabandiyah. Tarekat ini didirikan Syekh Ahmad Khatib Sambas. Ia dilahirkan di daerah Kampung Dagang, Sambas, Kalimantan Barat, pada bulan Shafar 1217 H, yang bertepatan dengan tahun 1803 M dengan ayahnya yang bernama Abdul Ghaffar bin Abdul lah bin Muhammad bin Jalaluddin.
Kisah Syekh Abdul Malik dan Detik-detik Proklamasi
Syekh Abdul Malik memiliki nama lengkap Muhammad Ash’ad bin Muhammad Ilyas atau yang kerap disapa dengan panggilan Mbah Malik Kedung Paruk lahir pada hari Jum’at, tanggal 3 Rajab tahun 1294 H atau bertepatan pada tahun 1881 M, di Purwokerto, kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.