Home Berita Tasawuf dapat Membentengi Diri dari Terorisme dan Radikalisme

Tasawuf dapat Membentengi Diri dari Terorisme dan Radikalisme

Yogyakarta, JATMAN Online – Jam’iyyah Ahlith Thariqah al Mu’tabarah an Nahdliyyah (JATMAN) pada masa periode Rais ‘Aam Habib Luthfi menekankan cinta tanah air dan menangkal radikalisme.

“JATMAN sebagai perkumpulan dari tarekat-tarekat yang ada yang dimpimpin habib lutfi menurut saya sangat penting kontribusinya pada meredam radikalisme dan kemudian menekankan atau menanamkan kecintaan dalam tanah air yang lebih dalam,” kata Prof. Heddy dalam kegiatan bedah tesis Being Tolerant And Nationalist Sufi In Indonesia: A Social Movement Study Of Jatman And Habib Luthfi yang diadakan oleh MATAN DIY dan Pusat (17/12).

Kemudian Direktorat Pencegahan BNPT menjelaskan dalam paparannya setelah membaca abstraksinya kemudian kesimpulannya di dalam tesis tersebut menyebutkan bahwa nasionalisme disini ada tiga makna di dalam JATMAN yaitu birrul walidain (berbakti kepada orang tua), kemudian bersyukur, dan meningkatkan pengetahuan sejarah bangsa.

“Saya sampaikan sependapat meskipun harus ditambahi jadi kalau di JATMAN yang sering saya ikuti Habib Lutfi, atau saya sebut abah disamping birrul walidain, bersyukur, dan pendalaman wawasan sejarah bangsa adalah mencintai budaya daerah dan mengembangkan spiritual akhlakul karimah,” jelas Brigjen Ahmad Nur Wakhid.

Ahmad Nur Wakhid sering sekali mendampingi beliau dan diperintah beliau untuk menumbuhkembangkan yang namanya silaturahmi kebangsaan untuk membangun harmoni bangsa.

“Sehingga tagline yang disarankan beliau -BNPT milik kita bersama membangun harmoni bangsa- itu harmoni akan terwujud jika masyarakat bangsa indonesia tumbuh dan berkembang aspek spiritualitasnya,” lanjutnya.

Beliau juga menegaskan bahwa ia meyakini hanya tasawuf sebagai solusi untuk menanggulangi terorisme dan radikalisme dalam konteks itu mengatasnamakan agama karena ia sendiri mengalami fase sebagai kelompok mereka, dapat hidayah taubat dan sekarang menjadi pengamal tasawuf.

“Memang kalau belum mengamalkan tasawuf dan hanya kognisinya saja tidak akan seberani saya mengatakan seperti itu, karena indikasinya berhasilnya deradikalisasi adalah tercerabutnya ideologi takfiri yang tertanam jiwanya di dalam dirinya tergantikan oleh ideologi whasaty atau ideoogi moderat. Yang tercermin dalam akhlawul karimah atau budi pekerti yang luhur dan sikap konsisten terhadap pancasila NKRI harga mati,” tegasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.