Home Artikel Weton dalam Akidah, Syirikkah?

Weton dalam Akidah, Syirikkah?

Yogyakarta, JATMAN Online – Mahasiswa Ahlut Thariqoh Al Mu’tabaroh an Nahdliyyah (MATAN) Komisariat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menggelar agenda rutin ‘Majelis Lidz-Dzikr Rotib al Haddad dan Sinau Bareng’ di Selasar Masjid Kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Sabtu (11/12) lalu.

Dalam kesempatan tersebut, rutinan MATAN mengangkat tema yang cukup menarik yakni ‘Tasawuf Weton’, yang disampaikan oleh Gus Luthfi Musthofa dan secara rinci membahas hubungan antara weton dengan tasawwuf.

Gus Lutfhi Musthofa membuka pembahasan dengan menyerukan moderasi dalam beragama. Hal ini cukup penting dibahas sebagai pembuka agar umat Islam dapat bijak dalam memahami ajaran khas nusantara tersebut.

“Dalam beragama, Islam mengajarkan umatnya untuk berada di tengah-tengah (tawasuth). Yaitu tidak fanatik ke kanan maupun ke kiri. Termasuk dalam memahami ajaran-ajaran khas nusantara, yang diantaranya adalah weton. Tidak ada paksaan dan tidak ada fanatisme didalamnya,” ungkap Gus Luthfi memulai diskusi.

Setelahnya, beliau menjelaskan secara rinci mengenai weton, neptu dan hal-hal yang berkaitan dengan keduanya. Gus Luthfi menerangkan bahwa weton adalah bukti keanekaragaman ilmu pengetahuan dan kecerdasan leluhur Nusantara, khususnya Jawa.

“Weton dan neptu adalah akumulasi rumus-rumus kehidupan manusia dan alam semesta yang telah disusun sedemikian rupa oleh para leluhur dan dapat digunakan sebagai sarana dalam memahami tanda-tanda kehidupan selanjutnya,” tuturnya.

Dalam penutupnya, Gus Luthfi menegaskan, bahwa mengaitkan weton dengan akidah adalah sebuah kekeliruan.

“Weton hanyalah sebuah alat dan tidak ada kaitannya dengan aqidah sehingga tidak dapat dikategorikan perbuatan syirik,” pungkasnya. (Syaiful Afif)

Leave a Reply

Your email address will not be published.