Majelis Pengkajian Tauhid Dan Tasawuf (MPTT) didirikan oleh Abuya Syekh H. Amran Waly Al-Khalidi resmi berdiri secara hukum pada tahun 2004 di depan notaris, namun ajarannya sendiri sudah mulai diajarkan sejak tahun 1998 di Dayah Darul Ihsan, Kecamatan Labuhan Haji Kabupaten Aceh Selatan.
Kategori: Artikel
KH Abbas Buntet Cirebon, Mursyid yang Gigih Melawan Penjajah
Siapa yang tidak paham tentang gigihnya KH Abbas Abdul Jamil Buntet Pesantren sosok ulama yang sakti mandraguna. Betapa tidak, berbagai cerita lisan mengisahkan peran heroiknya dalam menumpas sekutu di Surabaya pada Perang 10 November 1945.
Mengenal Kang Ayip Muh Cirebon, Guru Habib Luthfi bin Yahya
Al Habib Muhammad bin Syekh bin Abu Bakar bin Yahya, yang kerap di panggil “Kang Ayip Muh” oleh masyarakat Cirebon. Beliau adalah Ulama kharismatik yang sangat disegani oleh warga Cirebon karena dakwahnya yang merangkul semua elemen masyarakat. Beliau juga salah satu guru dari ulama asal Pekalongan yakni Maulana Habib Luthfi bin Yahya
Mengenal Syekh Abdul Malik Purwokerto; Mursyid yang Dicintai Para Habaib (5)
Adalah tidak benar, jika para ulama ahli tasawuf disebut sebagai para pemalas, bodoh, kumal dan mengabaikan urusan-urusan duniawi. Meski tidak berpakaian Necis, namun mereka senantiasa tanggap terhadap berbagai kejadian yang ada di sekitarnya. Ketika zaman bergolak dalam revolusi fisik untuk melepaskan diri dari belenggu penjajahan bangsa asing, para ulama ahli thariqah senyatanya juga turut berjuang dalam satu tarikan nafas demi memerdekakan bangsanya.
Mengenal Syekh Abdul Malik Purwokerto; Mursyid yang Dicintai Para Habaib (4)
Syekh Abdul Malik juga dikenal memiliki hubungan baik dengan para ulama dan habaib, Bahkan dianggap sebagai guru bagi mereka, seperti KH. Hasan Mangli (Magelang), Habib Soleh bin Muhsin al-Hamid (Tanggul, Jember), Habib Ahmad Bafaqih (Yogyakarta), Habib Husein bin Hadi (Brani, Probolinggo), dan lain-lain.
Mengenal Syekh Abdul Malik Purwokerto; Mursyid yang Dicintai Para Habaib (3)
Daerah Banyumas yang pertama kali dijadikan tempat pengembangan tarekat adalah Desa Kedung Paruk Kecamatan Kembaran. Di Kedung Paruk Muhammad Ilyas mengembangkan dan memperkenalkan Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah kepada masyarakat sekitar. Muhammad Ilyas bersama anaknya yaitu Syekh Abdul Malik (keturunan dari istri keduanya) bersama- sama mengembangkan tarekat ini. Syekh Abdul Malik disamping mengajarkan Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah juga mengajarkan Tarekat Syadziliyah sehingga beliau dikenal sebagai guru besar Tarekat Naqsyabandiyah dan Tarekat Syadziliah di Indonesia. Ijazah mursyid beliau dapatkan dari ayahandanya, sedangkan ijazah mursyid Tarekat Syadziliyah beliau peroleh dari al-Qutub al-‘Arif Billah as-Sayyid Ahmad Nahrawi al-Makki Mekkah.
Mengenal Syekh Abdul Malik Purwokerto; Mursyid yang Dicintai Para Habaib (2)
Sejak kecil, Abdul Malik memperoleh pengasuhan dan pendidikan secara langsung dari kedua orang tuanya. Setelah belajar al-Qur’an kepada ayahnya, Abdul Malik diperintahkan untuk melanjutkan pendidikannya kepada Kiai Abu bakar bin Haji Yahya Ngasinan, Kebasen, Banyumas.
Mengenal Syekh Abdul Malik Purwokerto; Mursyid yang Dicintai Para Habaib (1)
Muhammad Ash’ad bin Muhammad Ilyas atau yang kerap disapa dengan panggilan Syekh Abdul Malik Kedung Paruk lahir pada hari Jum’at, tanggal 3 Rajab tahun 1294 H atau bertepatan pada tahun 1881 M, di Purwekerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
Kisah Persahabatan Habib Hasyim bin Umar bin Yahya dengan Habib Ahmad Bin Abdullah bin Thalib Al-Attas (5)
Habib Hasyim bin Yahya (w. 1930) dan Habib Ahmad Al-Attas (w. 1929 M) merupakan dua ulama Al-Arif billah yang hidup dalam satu masa di Pekalongan dan bertempat di lokasi yang tidak berjauhan. Dikisahkan bahwa ketika Habib Hasyim hendak melakukan satu kegiatan atau rencana, beliau selalu meminta izin dan saran dari Habib Ahmad bin Thalib al-Attas. Begitu juga sebaliknya jika belum meminta restu dari Habib Hasyim, Habib Ahmad Al-Attas tidak akan berani melangkah.
Kedermawanan Habib Hasyim bin Umar bin Yahya dalam Berdakwah (4)
Habib Hasyim terkenal sebagai sosok yang dermawan. Setiap hari setelah ber-khalwat, berzikir, membaca Al-Qur’an dan membaca kitab yang rutin beliau lakukan ba‘da shalat subuh, beliau kemudian keluar dari tempat khalwat, dan pergi ke desa-desa dan daerah-daerah untuk melakukan kegiatan Amaliah Shadaqah dengan membagikan harta kepada orang-orang yang tidak mampu.