Dalam diskusi Tasawuf, siapa yang tak mengenal sosok Syekh Abul Hasan Ali Asy-Syadzili. Ya.. beliau merupakan Wali Quthb pada zamannya dan merupakan pendiri tarekat Syadziliyah.
Abul Hasan Ali Asy-Syadzili yang lahir pada tahun 593H/ 1197M di desa Gumarah yang kini terkenal dengan nama Kota Thonjah Maroko Utara merupakan murid kesayangan Syekh Abd Salam bin Masyisy sehingga ia mencapai derajat Wali Quthb.
Seorang Wali Quthb—seperti Asy-Syadzili—sudah barang tentu memliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh manusia pada umumnya. Menurut Aqidah Islam Ahlus Sunnah Wal Jamaah meyakini bahwa para wali memiliki keistimewaan atau kemuliaan (karamah) di dunia adalah suatu kenyataan (Haq).
Berikut ini adalah karamah-karamah Syekh Abul Hasan Asy-Syadzili:
Mengerti Isi Hati Seseorang
Di dalam kitab Jami’ul Karomatil Auliya’ karya Al Allamah Syekh Yusuf bin Ismail Nabhani menceritakan;
Suatu ketika Syekh Abul Hasan Ali Asy-Syadzili menerangkan sebuah arti zuhud dalam sebuah majelis rutin pengajiannya, sementara ada pengikut yang hadir dengan pakaian yang jelek dan kumal, sehingga terbersit ucapan dalam hati si fakir miskin itu: “pakaian Syekh Abul Hasan bagus dan rapi, bagaimana mungkin berbicara tentang zuhud dari dunia, bukan beliau Syekh Abul Hasan Ali Asy-Syadzili”
Tiba-tiba Syekh Abul Hasan menoleh kepada si fakir miskin itu sekan mengetahui apa yang dikatakan dalam hati si fakir miskin itu seraya berkata: “Kamu bukanlah orang yang zuhud, pakaian yang kamu kenakan ada unsur kesenangan duniawi, karena kamu menggunakan pakaian pakaian itu dengan tujuan menarik orang di sekitarmu agar terkesan dirimu orang fakir dan sehingga di sangka wali Allah”.
Berbeda dengan aku memakai pakaian bagus dan rapih, maka orang beranggapan bahwa kau orang yang kaya raya dan bukan orang zuhud , juga bukan wali Allah.
Maka seketika si fakir miskin berdiri dan mendekati syekh Abul Hasan lalu berkata;
“Wallahi… memang saya berkata, bahwa aku orang zuhud tetapi di dalam hati, sekarang aku bertaubat kepada Allah Swt dan maafkanlah saya wahai guru”
Mendengar pengakuan si fakir tersebut, Syekh Abul Hasan terharu kemudian ia memberikan kepadanya sebuah pakaian yang bagus dan baru. Lalu syaik Abul Hasan mendoakannya:
“Semoga Allah Swt memberikan kasih saying Nya kepadamu melalui hati orang-orang pilihan dan semoga hidupmu penuh barokah serta husnul khotimah di akhir hayatmu”.
Menjadi Wali Sejak Usia Enam Tahun
Menurut suatu riwayat bahwa Nabi Khidir as pernah datang kepada Syekh Abul Hasan Ali Asy-Syadzili untuk menetapkan “wilayatul adzimah” kepada beliau (menjadi seorang wali yang memiliki kedudukan tinggi) disaat beliau menginjak usia enam tahun.
Selalu Melihat Lailatul Qodar
Syekh Abul Hasan Ali Asy-Syadzili diberikan keanugerahan oleh Allah Swt selalu menjumpai turunnya Lailatul Qodar semenjak usia baligh hingga wafatnya. Seperti yang diterangkan dalam kitab Kasyful Asrar Li Tanwirul Afkar karya Mustafa bin Muhyiddin Asy-Syadzili, Syekh Abul Hasan Ali Asy-Syadzili berkata:
Apabila awal puasa Ramadhan jatuh pada hari Ahad maka Lailatul Qodar jatuh pada malam ke-29 bulan Ramadhan.
Apabila awal puasa Ramadhan jatuh pada hari Senin maka Lailatul Qodar jatuh pada malam ke-21 bulan Ramadhan
Apabila awal puasa Ramadhan jatuh pada hari Selasa maka Lailatul Qodar jatuh pada malam ke-27 bulan Ramadhan
Apabila awal puasa Ramadhan jatuh pada hari Rabu maka Lailatul Qodar jatuh pada malam ke19 bulan Ramadhan
Apabila awal puasa Ramadhan jatuh pada hari Kamis maka Lailatul Qodar jatuh pada malam ke-25 bulan Ramadhan
Apabila awal puasa Ramadhan jatuh pada hari Jumat maka Lailatul Qodar jatuh pada malam ke-17 bulan Ramadhan
Apabila awal puasa Ramadhan jatuh pada hari Sabtu maka Lailatul Qodar jatuh pada malam ke-23 bulan Ramadhan.
Wallahua’lam
Oleh: Warto’i
Sumber:
Nur Hakim Syah, Perjalanan & Petuah Mursyid Thariqoh Syadziliyah, TP: Al-Qolbu, TT
Kitab Badul Amali
kitab Kasyful Asrar Li Tanwirul Afkar karya Mustafa bin Muhyiddin Asy-Syadzili
Leave a Reply