Mengulas Tarekat Syattariyah dalam Naskah Babad Cirebon

Tarekat Syattariyah adalah aliran tarekat yang pertama kali muncul di India pada abad ke-15 yang dinisbatkan pada nama pendirinya Abdullah asy- Syattar.  Nasab Syekh ‘Abdullah asy- Syattar bersambung sampai kepada Rasulullah saw. melalui jalur Imam Hasan bin ‘Ali. Nisbah asy-Syattar menurut beberapa riwayat berasal dari kata syatara artinya membelah dua. Kemungkinan istilah ini merupakan pengukuhan dari gurunya atas derajat spiritual yang dicapai, yang kemudian membuatnya berhak mendapat pelimpahan hak dan wewenang sebagai Mursyid. Sepeninggal Abdullah asy-Syattar, Tarekat Syattariyah disebarluaskan oleh murid-muridnya, terutama Muhammad A’la, sang Bengali, yang dikenal sebagai Qazan Syattari, juga Muhammad Ghaus dari Gwalior (w. 1562), keturunan keempat...

Mengetahui Kesucian Santrinya

Karamah Syekh Abdul Qadir al-Jilani lainnya adalah waliyullah tersebut mengetahui kondisi santrinya, apakah mereka suci atau tidak. Seperti dikisahkan oleh Abu Najjar bahwa suatu hari pernah ada orang dari Jilan, yang nyantri di Madrasah Syekh Abdul Qadir, anak ini datang kepada Syekh untuk belajar fiqih. Ketika berkumandang azan zuhur, seluruh santri berebut tempat di barisan paling depan untuk mengaji kepada Syekh Abdul Qodir. Masing-masing santri akan meletakkan kitabnya di dekat sajadah Syekh Abdul Qadir. Santri yang meletakkan kitabnya di dekat sajadah itu akan mendapat giliran pertama untuk mengaji dengan Syekh Abdul Qadir selepas salat zuhur. Sebelum waktu zuhur tiba, santri...

Mengenal KH. Zamrodji Kencong, Mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah

Kiai Zamrodji adalah putra dari pasangan Kiai Syairozi bin Kiai Syakur dengan Nyai Asiyatun binti Kiai Sirojuddin. Ia bersama saudaranya antara lain Kiai Sholhah, KH. Ahmadi dan KH. Abdul Hadi merupakan perintis Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Kencong, Kediri pada tahun 1951.  Pada masa remaja, Kiai menghabiskan waktunya untuk menuntut ilmu dan berguru kepada beberapa ulama, di antaranya KH. Dimyathi bin KH. Abdulloh bin KH. Abdul Manan yang merupakan pengasuh Pondok Pesantren Tremas Pacitan, dimana pesantren tersebut berhasil mencetak ulama-ulama besar dan tokoh-tokoh nasional seperti mantan Menteri Agama Dr. KH. Mu’thi Ali, MA, KH. Ali Ma’shum, Pengasuh Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak Bantul Yogjakarta, waliyullah...

JATMAN Purwakarta Giatkan Literasi bersama Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah

Purwakarta, JATMAN Online – Mudir Idaroh Syu’biyyah JATMAN Purwakarta yang wakili oleh Ustaz Rafli berkunjung ke Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Disipusda) Kab. Purwakarta pada Selasa (13/07). Kunjungan ini dilaksanakan dalam rangka silaturahmi dan memperkenalkan JATMAN kepada dinas terkait sebagai organisasi yang bukan hanya bergerak dalam bidang tasawuf thariqah saja, melainkan juga pada berbagai aspek kehidupan, terutama dalam upaya membangun literasi baca. Kunjungan tersebut diterima sangat baik oleh Sekretaris Disipusda, Bapak Yayat Hidayat dan Kepala Bidang Perpustakaan, Ibu Uce. Dalam silaturahmi ini, kedua belah pihak berharap kedepannya akan adanya kerjasama yang terjalin dengan baik antara pihak Disipusda dan JATMAN Purwakarta. Demikian pula...

Kliwonan, Bagaimana Menemukan Mutiara Hakikat Di dalam Lautan Tarekat

Habibana Luthfi bin Yahya berpesan, bahwa di dalam Kitab Jami’ Al Ushul Auliya’ syariat diumpamakan seperti perahu dan tarekat diumpamakan seperti lautan.   Jika demikian, ketika ada orang yang menaiki perahu, siapakah yang menjadi nahkoda? Apakah perahu akan berjalan sendiri? Tentu tidak mungkin. Bisa jadi mesinnya memang menyala, tapi tanpa nahkoda kita tidak tahu jika hal-hal buruk akan terjadi seperti tersesat, perahu yang menghantam karang, bahkan kita tidak akan tahu jika terjadi situasi mencekam seperti gelombang yang besar serta memastikan bagaimana keadaan penumpang yang ada di dalam perahu, apakah mereka mampu atau tidak jika ada dalam situasi tersebut. Lalu, siapakah...

JATMAN Purwakarta Gandeng Mahasiswa Belajar Thariqah

Purwakarta, JATMAN Online – Mahasiswa STAI Al-Muhajirin Purwakarta mengadakan seminar dengan tema “Mendekatkan Diri Kepada Allah Swt. melalui Thoriqoh.” Seminar ini berlangsung pada Kamis (30/06) dan diikuti oleh mahasiswa jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir dan Manajemen Pendidikan Islam STAI Al-Muhajirin Purwakarta serta jajaran pengurus Idaroh Syu’biyyah JATMAN Purwakarta Pada kesempatan tersebut, H. Amit Saepul Malik selaku dosen mata kuliah Akhlak Tasawuf menyampaikan rasa suka cita atas terselenggaranya acara ini dan bertemunya ia dengan beberapa narasumber. “Kebahagiaan tersendiri bisa bertemu dengan Ustaz Zeni Rafli dalam rangka Seminar Akhlaq Tasawuf STAI Al-Muhajirin ini.” Ujar H. Amit. Ia juga menyampaikan kepada para mahasiswa bahwa di...

Mengapa Thariqah Harus Ada Mursyid Padahal Untuk Mempelajari Thariqah Bisa Melalui Literasi-literasi Ulama dan Tasawuf?

Pertanyaan:Mengapa Thariqah Harus Ada Mursyid Padahal Untuk Mempelajari Thariqah Bisa melalui Literasi-literasi Ulama dan Tasawuf? Jawaban:Allah Swt. berfirman dalam Qs. Al-Kahfi ayat 17, مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا “Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” Dari dalil di atas, sudah jelas bahwa barangsiapa yang memperoleh petunjuk dari Allah, itulah yang benar-benar boleh diikuti. Tapi jika tidak mendapat petunjuk, maka tidak boleh. Karena jika tidak, selamanya tidak akan menemukan mursyid yang sumbernya dari Allah...

Selamat Dari Tipu Daya Setan

Pada suatu hari setan datang menghadap Syekh Abdul Qadir al-Jilani dengan menampakkan dirinya sebagai Jibril dan menjelaskan bahwa ia membawa Buraq dari Allah Swt. Ia datang untuk mengundang Syekh Abdul Qadir untuk menghadap Allah di langit tertinggi. Syekh Abdul Qadir segera mengetahui bahwa lawan bicaranya adalah setan bukan Malaikat Jibril. Syekh Abdul Qadir tahu bahwa Jibril tidak akan turun membawa Buraq ke dunia selain kepada Nabi Muhammad saw. Setan kemudian berkata, “Baik Abdul Qadir, engkau telah menyelamatkan diri dengan keluasan ilmumu.” Kemudian Syekh Abdul Qadir membentak setan, “Enyahlah.“ Syekh Abdul Qadir lalu melanjutkan pembicaraannya, “Jangan kau goda aku, bukan karena...

Konsistensi JATMAN Jawa Timur dalam Menjaga Eksistensi Gerakan Ketarekatan (2)

Kegiatan JATMAN di Jawa Timur terbagi menjadi dua katagori, pertama yang berkaitan dengan ritual dan yang kedua berkaitan dengan organisatoris yang mengacu pada NU yang orientasinya bisa bermanfaat bagi JATMAN, NU dan negara bahkan bagi pengamal thariqah. Kegiatan yang berkaitan dengan ritual, telah dibentuk sebuah forum untuk pertemuan para mursyid,  yang mana selama dua tahun ke belakang telah berjalan dengan nama Forum Halaqah JATMAN, yang membahas permasalahan thariqah dan kewargaan serta keorganisasiannya. Sedangkan yang berkaitan dengan organisatoris, ada sekitar 18-23 program prioritas yang dilakukan sebagai upaya konsolidasi organisasi. Ada sekitar 40 Idaroh Syu’biyyah di Jawa Timur yang diprioritaskan untuk diremajakan,...

Konsistensi JATMAN Jawa Timur dalam Menjaga Eksistensi Gerakan Ketarekatan (1)

Jawa Timur adalah salah satu provinsi di Pulau Jawa yang menjadi basis gerakan tarekat. Dalam tulisan Syekh Abul Fadhol, Ahla al Musamarah fi Hikayat al Auliya’ al ‘Asyrah, Sayyid Rahmat atau Sunan Ampel selama mengajar di Pesantren Ngampel Denta Surabaya, membekali para muridnya Tarekat Naqsabandiyah yang kemudian diteruskan oleh Raden Paku atau Sunan Giri. Mengingat basis Islam di Jawa pada waktu itu ada di Surabaya, maka tidak heran jika perkumpulan tarekat ini sudah mendarah daging bersamaan dengan berkembangnya Islam di Jawa Timur. Dengan berjalannya waktu, Tarekat Naqsabandiyah ini kemudian menyebar di berbagai wilayah dan terintegrasi dengan berbagai tarekat besar seperti Khalidiyah, menjadi...