Kualat: Pembelaan KH Abdullah Bin Nuh terhadap Kaum Sufi

KH. Raden Abdullah Bin Nuh atau sering dikenal dengan Mama ABN merupakan ulama dari Bogor yang mendunia. Saking cintanya dengan karya-karya Imam Al-Ghazali, beliau dijuluki dengan Al-Ghazali dari Indonesia. Dalam sebuah kitab Masterpiece-nya “Ana Muslim Sunni Syafi’i, beliau menunjukkan pembelaan kepada kaum sufi di bagian akhir kitabnya. Beliau membahas cukup panjang, diantaranya akidah kaum sufi, amaliyah (suluk), karomah, syathathat, dan lain-lain. Dalam pembelaanya, beliau banyak sekali mengutip pendapat-pendapat Ibnu Hajar Al-Haitami. Beliau menceritakan kekeramatan para wali Allah seperti Syekh Ibnu Arabi, Syeh Abdul Qodir Al-Jailani, Imam Junaid Al-Baghdadi, Abu Yazid Al-Busthomi, Syekh Ibnu Al-Faridh dan ulama sufi lainnya. Yang menarik...

Kontribusi Tasawuf Syekh Amir Abdul Qadir al-Jaza’iri Terhadap Intelektual dan Spiritual Islam

Aljazair (Algeria) merupakan salah satu hegara yang terletak dikawasan Afrika Utara. Sebutan untuk negara ini pada zaman dahulu dinamakan ‘Tangier” atau “Tilmsian (Tilmecen)”. Sekitar abad ke 16 negara, Aljazair menjadi bagian dari Kekhalifahan Utsmaniyah. Aljazair Negara yang telah melahirkan berbagai ulama-ulama Sufi besar salah satu diantaranya Syekh Amir Abdul Qadir al-Jaza’iri yang telah memberikan kontribusi terhadap Intelektual dan Spiritual Islam.

Pergerakan Tauhid Sufi dalam Memberkahi Kehidupan Masyarakat Era Modern

Era modern ditandai dengan perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Kemajuan iptek sangat bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat. Namun apabila ditinjau dari sisi ruhani, kemajuan iptek membawa kepada kepada kemerosotan Iman (aqidah) dan moral (akhlak). Mengapa demikian? Hal ini disebabkan lemahnya ketauhidan pada diri masyarakat. Masyarakat tidak memanfaatkan kemajuan iptek ke arah yang positif melainkan menggunakan iptek ke arah yang negative. Salah satunya media massa sebagai tempat untuk memfitnah dan penyebaran hoaks.

Memahami Tahun Baru Hijriyah, Membangun Kesadaran Spiritual

Momentum tahun baru hijriyah mengandung semangat perjuangan tanpa putus asa dan rasa optimisme yang tinggi, yaitu semangat berhijrah dari hal yang baik ke yang lebih baik lagi. Rasulullah saw. dan para sahabatnya telah melawan rasa sedih dan takut dengan berhijrah. Hijrah mengandung semangat persaudaraan, seperti yang dicontohkan Rasulullah saw. saat beliau mempersaudarakan kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Bahkan beliau telah membina hubungan baik dengan beberapa kelompok Yahudi yang hidup di Madinah dan sekitarnya pada waktu itu.

Mahabbah, Menempuh Jalan Menuju Allah

Istilah mahabbah secara bahasa berasal dari kata ahabba, yuhibbu, mahabbatan, yang berarti mencintai secara mendalam, khususnya kepada Allah. Jika umat Islam mencari mahabbah atau cinta murni ini, kemudian mencapainya ia akan dimuliakan Allah.

Khalwat dan Uzlah Sebagai Terapi Ruhani

Dalam ilmu tasawuf kita telah mengenal istilah khalwat dan uzlah yang merupakan dua kedudukan ruhani salik (maqamat) yang saling menyertai. Khalwat dan uzlah adalah salah satu praktik dalam tarekat Sufi. Adapun tarekat itu jalan seseorang untuk menuju Allah di bawah bimbingan mursyid dengan mengamalkan segala ketentuan syariat untuk sampai kepada hakikat, yaitu Hadrat Ilahiyyah.

Mengenal Kitab Insan Kamil Fi Ma’arifah Awa’il wa Awakhir dalam Membangun Spiritual Hati

Insan kamil menjadikan manusia (mikro-kosmos) sebagai fokus kajian, utamanya Rasulullah saw. sebagai inti pembahasan dan ikon kesempurnaan. Karya tersebut merupakan buah pemikiran dan hasil kasyf Syekh Abdul Karim Al-Jili, seorang wali Allah, ulama sufi dan juga cerdik cendikiawan muslim kelahiran al-Jailan salah satu distrik di kota Baghdad (Irak), yang hidup antara tahun 1366 M dan 1430 M. Al-Jili merupakan anak keturunan Syekh Sayyidi Abdul Qadir Al-Jilani.