Home Artikel Problem Mengandalkan Amal Bagi Kemaslahatan Jiwa

Problem Mengandalkan Amal Bagi Kemaslahatan Jiwa

Sudah menjadi tolok ukur ideal dalam menilai setiap tindakan manusia, pasti kita akan mengacu pada amal apa yang ia perbuat. Demikian pula dalam memprediksi kesuksesan dan kegagalan, sudah barang tentu yang menjadi ukuran wajib adalah seberapa banyak dan sekuat apa konsistensi seseorang dalam menjalani amal yang ia kerjakan. Namun manusia diciptakan dan disifati sebagai:

الإنسان محل الخطأ والنسيان

Manusia adalah tempatnya salah dan lupa

KH. Musthofa Bisri pernah berkata:

“Malaikat selalu benar dan setan selalu salah, sedangkan manusia bisa benar bisa salah.”

Ketika manusia mampu memahami hal demikian tentu ia akan lebih fleksibel memandang kebaikan dan keburukan yang memang ada pada setiap manusia. Disaat seseorang jatuh dalam kelalaian atau kesalahan, ia sering putus asa dan berkurang harapan baiknya atau luntur optimisme dalam hidupnya. Hal inilah yang kadang membuat seseorang terganggu psikologisnya dan kadang membuat ia pesimis dan menganggap semua amal baik yang lalu sirna dan batal seketika. Hal ini tentu merupakan fenomena yang akan memberi dampak negatif bagi kemaslahatan jiwa. Dalam kitab hikam dijelaskan ungkapan menarik di halaman pertama:

من علامات الإعتماد على العمل نقصان الرجاء عند وجود الزلل

Termasuk tanda-tanda bergantung pada amal adalah berkurangnya harapan ketika adanya kesalahan.

Artinya seseorang menjadi pesimis bahwa amal buruknya membuat ia gagal menggapai ridha Tuhannya, karena ia berkeyakinan bahwa amal-amal fisik yang tampaklah jalan satu-satunya menggapai ridha Tuhannya.

Imam Syarqawi memberi penjelasan tentang amal jawarih yang sering diandalkan kebanyakan manusia:

اي عمل الجوارح من صلوات وأذكار وغيرها والمعتمد على ذلك العباد والمريدون فالأولون يعتمدون عليها في دخول الجنة والتنعم فيها والنجاة من عذاب الله تعالى والآخر ن يعتمدون عليها فى الوصول إلى الله تعالى وكشف الأستار عن القلوب وحصول الأحوال القائمة بها والمكاشفات والأسرار كلاهما مذموم وناشء من رؤية النفس ونسبة الأعمال إليها حتى ينتج ما ذكر أما العارفون فلا يرون لأنفسهم شيئا حتى يعتمدوا عليه بل يشاهدون أن الفاعل الحقيقى هو الله تعالى وأنهم محل لظهور ذلك فقط.

Yakni amal yang identik dengan anggota badan seperti sholat, dzikir-dzikir dan sebagainya. Umumnya yang bergantung pada amal-amal tersebut adalah para ahli ibadah dan para murid tarekat, yang pertama (ahli ibadah) bergantung pada sholat dan dzikirnya untuk bisa masuk surga dan menikmati kesenangan surgawi, mereka juga ingin selamat dari adzab Allah. Sedangkan yang kedua (para murid tarekat) bergantung pada amal jawarih untuk sampai kepada Allah, tersingkirnya segala satir yang menyelubungi hati, keberhasilan mendapat ahwal kewalian, mencapai mukasyafah, dan memahami berbagai rahasia ketuhanan. Keduanya (yang pertama maupun kedua) masih tergolong buruk, dan muncul karena melihat keakuan diri dan menisbatkan amal pada diri sendiri (tanpa pertolongan Tuhan). Sedangkan orang yang arif billah ia sama sekali tak melihat dirinya punya sesuatu yang membuatnya bergantung pada hal itu, akan tetapi mereka memandang bahwa pelaku yang sesungguhnya adalah Allah ta’ala, dan mereka hanya sebagai wadah  munculnya segala amal perbuatan.

Lalu bagaimana penjelasan tentang mengandalkan amal ibadah jawarih yang ditandai dengan berkurangnya harapan ketika terjadi suatu kesalahan? Dijelaskan dalam pembahasan lanjutan dalam Syarh Syarqawi:

نقصان الرجاء اي رجائه فى الله تعالى أن يدخله الجنة وينجيه من العذاب إن كان من العباد وأن يوصله إلى مطلوبه المتقدم إن كان من المريدين

Berkurangnya harapan artinya, jika ia seorang ahli ibadah terkait harapan pada Allah agar memasukkan mereka ke dalam surga dan menyelamatkan mereka dari adzab. Jika ia seorang murid tasawuf maka terkait harapan agar Allah membuat mereka sampai pada perkara yang mereka dambakan (maqam kewalian dan rahasia ketuhanan).

Segala harapan baik mereka kepada Tuhan tersebut berkurang disaat mereka melakukan kesalahan, seperti dijelaskan dalam syarh al-hikam:

عند وجود الزلل بأن تصدر منه معصية كزنا وغفلة عن الله تعالى وترك أوراد ومن علامة كونه من العارفين فناؤه عن نفسه فإذا وقع فى زلة أو أصابه غفلة شهد تصريف الحق فيه وجريان قضائه عليه، كما أنه إذا صدرت منه طاعة أو لاح له مشاهدة قلبية، لم ير في ذلك حوله وقوته، فلا فرق عنده بين الحالين، لأنه غارق في بحار التوحيد، قد إستوى رجاؤه وخوفه، فلا ينقص العصيان خوفه ولا يزيد الإحسان رجاؤه. فمن لم يجد هذه العلامة فيه، فليجاهد نفسه بالرياضيات والأذكار حتى يصل إلى مقام العرفان

Tatkala terjadi keluputan yakni jika muncul kemaksiatan seperti zina, lalai terhadap Allah dan ketika meninggalkan rutinitas wirid. Sedangkan tanda seseorang itu tergolong arif billah adalah fana’ atau sirnanya seseorang dari wujud dirinya. Tatkala ia jatuh dalam keluputan atau mengalami kelalaian maka ia melihat ada kehendak Tuhan disitu, dan berlakunya ketetapan Allah atas mereka. Seakan-akan ketika muncul ketaatan dari diri mereka atau ketika tampak keistimewaan berupa pandangan qalbu yang cemerlang, maka mereka tak melihat hal tersebut sebagai kemampuan dan kekuatan milik mereka. Maka tak ada perbedaan pada diri mereka meski dihadapkan dengan dua keadaan (kebaikan dan keburukan), karena orang yang arif billah itu tenggelam dalam samudera tauhid. Maka menjadi seimbang khauf dan raja’ mereka. Tidak mengurangi kemaksiatan rasa khaufnya dan tidak menambah kebaikan rasa raja’nya. Seseorang yang belum mampu menemukan tanda ini dalam dirinya maka hendaknya dia sungguh-sungguh menggembleng jiwa mereka dengan rangkaian riyadhoh dan dzikir-dzikir hingga dia sampai pada maqam irfani.

Dengan begitu akan mampu disimpulkan bahwa tujuan setiap amal baik yang sifatnya fisik maupun non fisik adalah memperoleh ahwal batin yang mampu menjadikan terhindar dari ananiyah, hasud, kibir, ujub, dan sebagainya. Ketika seseorang terlalu memfokuskan diri dalam tataran kaifiyah seringkali ia melupakan ghoyah atau maqashid dari setiap amal yang mereka lakukan, maka dengan kuantitas amal yang banyak sekalipun kemaslahatan jiwa akan sulit untuk dicapai. Namun bukan berarti kita menyepelekan amal atau menganggap amal tak penting. Karena setiap umat beragama membutuhkan amal sebagai tahapan mencari ridho Tuhannya. Hanya saja juga keliru jika ukuran yang kita pakai dalam menilai kebaikan dan keburukan hanya pada kuantitas amal yang tampak di mata, sehingga seseorang akan mudah marah-marah (ghodhob), dengki (hasud) pada orang lain yang amal jawarihnya dirasa tak sebanding dan kalah jauh dengannya, seseorang menjadi hilang kesabarannya dan meluap amarahnya. Dan ketika dia sendiri yang jatuh pada kesalahan dan kemaksiatan, ia sulit untuk bangkit dan pesimis, harapan baiknya kepada Tuhan menjadi berkurang. Hal ini menandakan bahwa kemaslahatan jiwa belum tercapai karena kecondongan hati masih terpaku pada perkara selain Allah ta’ala. Dalam syarahnya, al-Syarqawi menjelaskan lagi:

ومراد المصنف بهذه الحكمة تنشيط السالك، ورفع همته عن الاعتماد على شيء سوى مولاه، لا التزهيد في الأعمال؛ لأنه سبب عادي في الوصول إلى االله تعالى ولا تحقير ما تنتجه الأحوال وغيرها؛ لأن ذلك منة من االله تعالى لا ينبغي ردها.

Tujuan pengarang hikam (Ibnu Athoillah) dengan hikmah tersebut adalah untuk menyemangati orang yang suluk menuju Tuhan, dan mengangkat himmah seseorang supaya tidak terlalu bergantung pada sesuatu selain Tuhannya. Jadi bukan untuk membuat tidak butuh pada amal-amal. Karena amal adalah sebab yang umum dalam wushul kepada Allah, Ibnu Athoillah juga tidak berarti meremehkan sesuatu yang menumbuhkan ahwal baik dan sebagainya, karena hal itu adalah pemberian Allah yang tak patut untuk ditolak.

Maka kemaslahatan jiwa harus lebih menjadi titik perhatian kita. Karena tujuan setiap amal ibadah adalah untuk membangun segala kemaslahatan, baik kemaslahatan individual, kelompok, dan hubungan antar sesama manusia. Sepertihalnya sholat yang dijelaskan:

وأقم الصلاة إن الصلاة تنهى عن الفحشاء والمنكر

Dirikanlah sholat, sesungguhnya sholat akan mencegah dari kerusakan dan kemungkaran.

Ketika sholat sudah didirikan dan dilaksanakan, tapi masih belum memberi dampak positif bagi kemaslahatan jiwa, dalam jiwa belum muncul sifat amanah, belum tercipta kejujuran, belum mampu meredam amarah dan kebencian, maka sholat kita masih menitik beratkan pada wilayah kaifiyah. Hal inilah yang disebut sebagai bergantung dan mengandalkan amal jawarih. Padahal sholat bukan hanya sebatas amalan fisik, tapi juga amalan ruhani yang akan mengantarkan seseorang memperoleh ketentraman dan kemaslahatan jiwa. Begitulah harusnya idealnya orang beragama, namun diriku belum juga mampu mencapai hal itu. Wallahu a’lam

Penulis: Fadhila Sidiq Permana

(Dosen Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin IAIFA Kediri)

Leave a Reply

Your email address will not be published.