Home Artikel Salat Sebagai Sarana untuk Merehatkan Jiwa

Salat Sebagai Sarana untuk Merehatkan Jiwa

Baginda Nabi Saw bersabda:

عَلَيْكُمْمَا تُطِيقُونَ مِنَ الأَعْمَالِ فَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا

Artinya: “Lakukanlah pekerjaan sesuai dengan kemampuan kalian, karena sesungguhnya Allah tidaklah akan pernah bosan (dengan memutus pahalanya) hingga kalian yang merasa bosan (denganmeninggalkan untuk mengerjakannya)”. (HR. Bukhari).

Allah akan menerima hamba-Nya yang telah beribadah kepada-Nya serta membalasnya dengan pahala atas dasar kemurahan-Nya, dan tidak akan pernah memutusnya. Hingga hamba tersebutlah yang meninggalkan amal tersebut sehingga Allah memutus pahalanya.

Karena bosan adalah suatu ‘ard (perkara yang datang dan pergi) yang merupakan sifat makhluk, sedangkan Allah adalah Dzat yang Maha Kekal dan Tidak berubah-ubah, sehingga sifat bosan ini diartikan dengan sesuatu yang menjadi lazimnya sifat tersebut, yaitu tidak memberikan balasan.

Telah diriwayatkan, bahwa para sahabat waktu itu menunggu waktu salat bersama baginda Nabi Saw, hingga sebagian dari mereka terlihat menundukkan kepalanya dan tertidur. Ketika qamat dikumandangkan, merekapun langsung terbangun dan salat bersama baginda Nabi.

Imam Abu Jamrah RA berkomentar atas perkara ini, bahwa diantara faidah qamat adalah menghilangkan rasa mengantuk, kelalaian, serta menghudurkan hati menghadap Allah Ta’ala

Ketika dikumandangkan qamat “Allahu Akbar “ maka keimanan akan bergetar dan terbangun dari kelalaiannya. Ketika terdengar “Asyhadu an laa ilaha illallah”, maka hati akan menjadi terang dan datanglah pertolongan Allah Ta’ala. ”Asyhadu an Muhammadan Rasulullah” menjadikan keyakinan semakin menguat dan menyebar keseluruh jiwanya.

“Hayya ‘ala as shalat” membuat azam semakin mantap, “Hayya‘ala al falah” memperbaharui dalam kesungguhan dan kesempurnaan menghambakan diri, “Allahu Akbar” berulangnya keagungan dan datang rasa haibah (rasa takut dengan penuh mengagungkan kepada Allah).

“laa ilaha illallah” menjadikan jiwa berpasrah, kesungguhan batin semakin sempurna, dengan terulangnya rasa haibah, dan keikhlasan, dzahir menjadi tunduk dan pasrah menjalankan ibadah salat.

Maka apabila seorang mukmin benar-benar merasakan makna yang terkandung pada kalimat-kalimat qamat yang telah disebut di atas, niscaya dirinya akan benar-benar siap menghadap kepada Sang Khaliq.

Hal ini sebagaimana telah diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud RA, bahwa ketika waktu qamat telah tiba, maka baginda Nabi Saw akan berkata kepada sahabat Bilal:

يَا بِلَالُ أَقِمِ الصَّلَاةَ أَرِحْنَابِهَا

Artinya: “Wahai Bilal, qamatlah untuk salat, rehatkanlah kami dengan salat itu”. (HR. Abu Dawud).

Salat adalah merupakan sarana untuk merehatkan jiwa dari kepayahan dunia ini, karena shalat adalah sebaik-baik dzikir yang hanya dengan berdzikirlah hati seorang mukmin menjadi tenang. Wallahu A’lam.

Laporan: Abdullah Alyusriy

Leave a Reply

Your email address will not be published.