Pemilihan Ketua Umum PBNU digelar bersamaan dengan pelaksanaan Muktamar ke-34 NU di Lampung. Sampai hari ini (23/12) kandidat terkuat yang masuk dalam bursa pencalonan ketua umum PBNU sudah ada empat nama. Keempat tokoh tersebut yaitu Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, MA, KH. Yahya Cholil Staquf, KH. DR. As’ad Said Ali, dan KH. Marzuqi Mustamar, M.Ag. Untuk mengenal lebih jauh, berikut adalah profil dari keempat tokoh tersebut:
1. Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj, MA
Kiai Said lahir di Cirebon pada 03 Juli 1953 dan merupakan anak kedua dari lima bersaudara yang terlahir dari pasangan orangtua, KH. Aqil Siradj dan Nyai Hj. Afifah. Ayahnya adalah pengasuh Pondok Pondok Pesantren Kempek, Cirebon yang menjadi menantu Kiai Harun bin Abdul Jalil. Kiai Said memiliki seorang istri yang bernama Nyai Hayati Abdul Qadir dan dikaruniai empat orang anak yaitu Muhammad Said Aqil, Nisrin Said Aqil, Rihab Said Aqil dan Aqil Said Aqil.
Sejak kecil, Kiai Said sudah tinggal dan hidup di lingkungan Pondok Pesantren sambil mengenyam pendidikan dari ayahnya di Tarbiyatul Mubtadi’ien Kempek, Cirebon. Selanjutnya ia menyantri di Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi’ien Lirboyo (1965-1970) dan Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta (1972-1975). Selain menyelesaikan pendidikan agama, ia juga berhasil menuntaskan pendidikan formalnya di universitas di Arab Saudi yaitu S1 jurusan Ushuludin dan Dakwah di Universitas King Abdul Aziz (lulus 1982), S2 jurusan Perbandingan Agama di Universitas Umm al Qura (lulus 1987) dan S3 jurusan Aqidah Filsafat di Universitas Umm al Qura (lulus 1994). Selain itu, untuk kembali mencalonkan diri sebagai ketua umum PBNU, Kiai Said sudah berbekal pengalaman organisasi dan posisi strategis di PBNU, diantaranya:
– Wakil Katib ‘Aam PBNU masa khidmat 1994-1998
– Katib ‘Aam PBNU masa khidmat 1998-1999
– Ketua Panitia Muktamar ke-30 NU di Kediri tahun 1999
– Rais Syuriah PBNU masa khidmat 1999-2004
– Ketua Umum PBNU masa khidmat 2010-sekarang (selama 2 periode)
Pada pencalonannya kembali di muktamar kali ini, Kiai Said mengusung beberapa visi dan misi yang akan diprogamkan apabila kembali terpilih, diantaranya menuntaskan pembangunan UNU dan ITS NU, melanjutkan program beasiswa ke berbagai negara serta meningkatkan layanan kemandirian ekonomi, digitalisasi dan database.
2. KH. Yahya Cholil Staquf
Gus Yahya lahir di Rembang, Jawa Tengah pada 16 Februari 1966. Ia merupakan putra dari KH. Muhammad Cholil Bisri, pengasuh Pondok Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin di Leteh, Rembang, Jawa Tengah. Selain ulama, ayahnya juga dikenal sebagai sosiolog dan politikus pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Kakeknya juga seorang tokoh besar NU, KH Bisri Mustofa, penyusun Kitab Tafsir Al Ibris.
Gus Yahya yang lahir dan besar di kalangan Pondok Pesantren, sudah digembleng ilmu agama sejak dini. Meski orang tuanya memiliki Pondok Pesantren, tapi ia dikirim untuk mondok di Madrasah Al Munawwir Krapyak, Kota Yogyakarta, yang diasuh oleh KH Ali Maksum. Selepas dari pondok, Gus Yahya melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (FISIP UGM). Selama masa kuliah, Gus Yahya aktif di organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Yogyakarta. Kakak kandung Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas itu juga sempat bermukim selama setahun di Mekkah, Arab Saudi untuk mengaji.
Pada muktamar kali ini, Gus Yahya memproklamirkan diri sebagai calon kandidat ketua umum PBNU. Sebelumnya, ia juga aktif dan menempati posisi strategis di PBNU, yakni menjadi Katib Syuriah PBNU sejak 2015 sampai sekarang. Nantinya, jika terpilih menjadi ketua umum PBNU, ia ingin mengajak Nahdiyin untuk memahami identitas NU secara utuh yang tidak hanya seputar ideologi tetapi juga sebagai pembawa mandat peradaban
3. KH. DR. As’ad Said Ali
Kiai Asad lahir di Kudus pada 19 Desember 1949. Ia merupakan alumnus Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta dan pernah menempuh perguruan tinggi di jurusan Hubungan Internasional UGM. Namanya muncul dalam bursa pencalonan ketua umum PBNU setelah mendapatkan dukungan dari kiai-kiai seperti pengasuh Pondok Pesantren Ammanatul Ummah, KH. Asep Saifuddin Chalim, ketua Tanfidziyah PCNU Banyuwangi 2003-2018, KH. Masykur Ali, Katib Aam Syuriah PBNU periode 2010-2015, Dr. KH. A. Malik Madani, hingga kiai sepuh pengasuh Pondok Pesantren Daarul Rahman, KH. Syukron Ma’mun.
Kiprahnya di Nahdhatul Ulama tidak diragukan lagi. Ia pernah diminta oleh para Rais Am, serta ulama sepuh NU mendampingi KH. Said Agil siraj sebagai Wakil ketua umum PBNU 2010-2015. Pada muktamar ke-33 di Jombang, ia juga pernah mencalonkan diri sebagai kandidat ketua umum PBNU, namun kalah suara dari Kiai Said. Selain itu, Kiai Asad juga memiliki jasa yang besar dalam proses pengkaderan di NU yakni dengan melahirkan PKP (Pendidikan Kader Penggerak) NU yang saat ini sudah berada lebih dari 11.000 titik
4. KH. Marzuqi Mustamar, M.Ag
Kiai Marzuki lahir di Blitar pada 22 September 1966 dari pasangan KH. Mustamar dengan Nyai Siti Jainab. Ia juga memiliki seorang istri bernama Nyai Sa’idatul Mustaghfiroh. Dari pernikahannya, ia dikaruniai dua laki-laki dan lima perempuan. Putra-putri beliau diantaranya, Habib Nur Ahmad, Diana Nabila, Millah Shofiya, M. ‘Izzal Maula, ‘Izza Nadila, Rossa Rahmania, dan Dina Roisah Kamila.
Kiai Marzuki pernah mengenyam pendidikan agama di Pondok Pesantren Nurul Huda, Mergosono. Kemudian pada tingkat selanjutnya beliau belajar di LIPIA Jakarta pada tahun 1988, lalu beliau kembali melanjutkan studi S1 di IAIN Malang pada tahun 1990, dan kembali melanjutkan studi S2 di UNISLA hingga selesai pada tahun 2004.
Kiai Marzuki merupakan Pimpinan Pondok Pesantren Sabiilul Rosyad, Gasek, Malang, Jawa Timur yang saat ini turut dicalonkan menjadi ketua umum PBNU 2021-2026. Selain menjadi pimpinan pondok pesantren, Kiai Marzuki juga menjadi dosen di Fakultas Humaniora dan Budaya UIN Maliki Malang. Kiprahnya di Nahdhatul Ulama sudah cukup panjang yakni dengan menjadi Ketua PCNU Kota Malang, Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur periode 2018-2023 berdasarkan hasil konferensi wilayah yang digelar di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri juga menjadi Dewan A’wan PBNU 2015-2020.
Leave a Reply