Urgensi Akhlak dalam Islam

Ditinjau dari segi bahasa, kata akhlaq berasal dari bahasa Arab yang merupakan bentuk jamak (plural) dari kata khilqun atau khuluqun, yang berarti perangai, tabiat, watak dasar, budi pekerti, kebiasaan, tingkah laku,  atau sopan santun.[1] Secara linguistik (kebahasaan), kata akhlaq merupakan isim jamid atau ghairu musytaq, yakni kata benda yang tidak mempunyai akar kata, melainkan muncul begitu saja sehingga tidak bisa ditashrif (non derivatif). Kata akhlak dapat dijumpai dalam al-Hadits, tetapi tidak disebutkan dalam al-Qur’an. Sebaliknya bentuk tunggalnya (khuluq), dapat dijumpai di dalam al-Qur’an dan al-Hadits.

Akhlak kepada Diri Sendiri (1)

Berbeda dengan etika atau moral di luar Islam yang hanya mengatur atau menekankan etika social (hubungan seseorang dengan orang lain dalam kehidupan bermasyarakat), akhlak dalam Islam memiliki spektrum (ruang lingkup pembahasan) yang sangat luas. Selain mengatur hubungan antar sesama manusia dalam kehidupan masyarakat (علاقة الانسان للغير في الحياة الاجتماعية ), akhlak dalam Islam juga mengatur hubungan manusia kepada Allah SWT, Dzat Yang Maha Pencipta dan Pengatur kehidupan manusia dan alam semesta (علاقة الانسان لله)  serta hubungan manusia dengan dirinya sendiri (علاقة الانسان لنفسه).

Road Map Kehidupan Manusia

Kehidupan manusia merupakan perjalanan panjang, melelahkan, penuh liku-liku, dan melalui tahapan demi tahapan. Berawal dari kehidupan di alam ruh (arwah), alam rahim (arham), alam dunia, alam kubur (barzakh), sampai pada alam akhirat yang berujung pada tempat persinggahan terakhir bagi manusia, surga atau neraka. Al-Qur’an dan Sunnah telah menjelaskan setiap fase dari perjalanan panjang manusia tersebut.

Fase Kehidupan di Alam Ruh

Kehidupan manusia di alam arwah atau alam ruh, terjadi jauh sebelum ayah dan ibu kita menikah, sehingga sering disebut dengan kehidupan before zero. Biasanya titik nol sebuah kota adalah di alun-alun kota tersebut. Sedangkan titik nol manusia adalah ketika dia dilahirkan ke alam dunia. Sebagian orang berpendapat bahwa titik nol manusia adalah ketika dia memasuki masa aqil baligh, yakni ketika manusia mulai bertanggungjawab terhadap seluruh amal perbuatannya dan semua keputusan yang diambilnya, karena telah dinilai sebagai manusia dewasa, yang seluruh amal perbuatannya mulai dicatat oleh malaikat dan kelak di akhirat akan diperhitungkan serta dimintai pertanggungjawaban.

Akhlak kepada Diri Sendiri (2)

Akhlak kepada Diri Sendiri; berbeda dengan etika atau moral di luar Islam yang hanya mengatur atau menekankan etika social (hubungan seseorang dengan orang lain dalam kehidupan bermasyarakat), akhlak dalam Islam memiliki spektrum )ruang lingkup pembahasan) yang sangat luas. Selain mengatur hubungan antar sesama manusia dalam kehidupan masyarakat

Fase Kehidupan di Alam Rahim (Arham)

Sesudah sepasang pria dan wanita menikah serta melakukan hubungan suami istri, maka dengan izin Allah SWT seorang ibu akan hamil. Pada saat itulah kita sebagai manusia mengalami kehidupan pada fase kedua, yakni kehidupan di alam rahim atau arham. Ketika berada di alam arham, kita berproses dari nuthfah (sperma dan ovum) selama 40 hari. Kemudian berkembang dan berubah menjadi‘alaqoh (yang menempel di dinding rahim) selama 40 hari.

Akhlak kepada Diri Sendiri (3)

Imam al-Syafi’i membagi waktu malam hari menjadi tiga bagian. Sepertiga malam untuk tidur (istirahat); sepertiga malam untuk mengkaji ilmu atau mengajar; sepertiga malam untuk ibadah (tahajjud). Agar mudah bangun malam, maka hendaklah para santri mengurangi konsumsi makanan.

Fase Kehidupan di Alam Dunia (1)

Fase kehidupan di alam dunia, dimulai sejak manusia dilahirkan oleh Allah SWT dari perut ibunya dan berakhir ketika diwafatkan oleh Allah SWT. Sesudah mengalami kehidupan di alam rahim selama kurang lebih sembilan bulan, janin tumbuh dan membentuk diri sehingga menjadi bentuk yang sempurna, maka dengan izin Allah SWT manusia terlahir dari perut seorang ibu ke alam dunia ini dengan perjuangan yang sangat melelahkan antara hidup dan mati.